Saturday, 25 January 2020

BOOK REVIEW | ME MINUS YOU - DIAN MARIANI


Judul Buku : Me Minus You
Penulis : Dian Mariani
Penyunting : Deesis Edith M
Desain Sampul : Yanyan Wijaya
Penata Letak : Dea Elysia Kristianto
Penerbit : Bhuana Sastra
Terbit : 2018
ISBN : 978-602-455-625-9

Tanpamu aku mampu, tapi aku tak mau

B L U R B :

Rein dan Daniel.
Dua sosok dewasa, dengan cinta yang dewasa juga. Tidak pernah ada aturan harus selalu bertemu atau melapor setiap hari. Semua tumbuh begitu saja, termasuk perasaan cinta. Daniel bukan pria romantic dan pandai bermain kata. Tapi dari matanya, Rein tahu ia disayangi. Diinginkan. Dicintai. Rein percaya pada Daniel, sepenuh hatinya.

Hingga keraguan dating dan mengusiknya. Saat sedang bersama, Daniel beberapa kali harus meninggalkannya, setelah menerima telepon dari seseorang. Seseorang yang tak pernah sanggup diceritakannya pada Rein. Seseorang yang –mau tak mau- telah menjadi bagian penting dalam hidup Daniel.

Rahasia apa yang disembunyikan Daniel? Kalau harus memilih, siapa yang dipilih Daniel? Seseorang –yang penting untuknya sejak dulu- atau Rein yang baru dikenalnya tapi berhasil membuatnya jatuh cinta? Atau… bolehkah ia memiliki keduanya?

Tanpamu aku mampu.
Tapi aku tak mau.
Aku mau kamu.


K I L A S   B A L I K

Kalau seorang wanita menangis karenamu, itu berarti dia benar-benar mencintaimu, Nak.”
“Seorang pria, harus memiliki tanggung jawab, dan mengembannya sampai akhir. Jadikan itu jati dirimu, Nak.” – hlm. 81

Kadang, berbuat baik lebih penting daripada berbuat adil.” – hlm. 84

Karena pesan dan janji pada ibunya , Daniel memilih melerakan perasaannya sendiri demi menjaga dan merawat Livia yang tinggal sebatang kara dan juga teman masa kecilnya. Daniel tahu akan perasaan Livia terhadapnya. Cinta. Tapi bagi Daniel sekeras apapun usahanya untuk bisa mencintai Livia dari dulu sebelum ia bertemu Rein tetap saja ia tidak mampu. Walaupun demikian Daniel tetap memilih Livia dibanding siapapun itu termasuk hatinya.

“Cinta itu, seharusnya bikin lo lebih bahagia daripada sebelumnya. Bikin lo lebih banyak tertawa, daripada sebelumnya.” – hlm. 45

Cinta yang dimililiki Rein kali ini terasa berbeda. Tidak perlu ada ungkapan rasa cinta yang mengebu-ngebu, cukup hanya dengan kebiasaan, pertemuan dan perhatian tapi semuanya tetap terasa indah. Cinta yang dewasa. Bagi Rein hubungannya dengan Daniel mengalir begitu saja, tanpa harus ada kata-kata untuk berkomitmen di antara keduanya tapi mereka bisa saling memahami hubungan yang sedang terjalin. Walaupun perlahan Rein sedikit bingung dengan sikap Daniel yang mendadak harus pamit setelah menerima setiap panggilan telpon. Rein tahu Daniel menyimpan satu rahasia darinya dan kata Domi sahabatnya mungkin Daniel punya istri dan anak yang disembunyikan? Tapi Rein sangat yakin kalau Daniel masih single. Tapi apa jadinya jika satu rahasia tersebut menghancurkan segalanya dan membuat Rein harus rela kembali ditinggalkan oleh orang-orang yang dkasihinya? Sanggupkah Rein untuk menata kembali hidupnya bersama orang yang baru nantinya?

Bagi Livia, semangat hidupnya ada pada sosok Daniel yang selama ini selalu menjadi tujuan hidupnya hingga ia divonis penyakit yang sama dengan mendiang Ibunya. Apapun akan ia lakukan demi kebaikan dan hidupnya asal selalu ada Daniel di sisinya. Karena tanpa Daniel hidupnya tidak berarti apapun, walaupun Livia harus berjuang seorang diri untuk perasaannya itu. Tapi apa jadinya jika perasaan yang selama ini diperjuanginnya hanya untuk menyakiti orang yang dicintainya saja? Sanggupkah Livia melepas perasaannya?

Kamu tahu, kenapa jatuh cinta itu seperti naik roller coaster, dan bukannya seperti ngebut naik mobil, padahal sama-sama memicu adrenalin?
“Karena ngebut naik mobil itu, hanya di jalan datar. Sementara naik roller coaster, bisa diatas, bisa di bawah. Sama seperti jatuh cinta. Bisa senang banget, bisa sedih banget, benci banget, saying banget, dan segala perasaan ekstrem lainnya. – hlm. 174

B O O K    R E V I  E W

Me Minus You mengisahkan tentang mereka yang harus merelakan, mengikhlaskan dan menerima semua yang sudah ditakdirkan pada diri mereka, termasuk cinta dan perkara hidup.

Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga dari sisi karakter tokohnya membuat kita sebagai pembaca bisa memahami dengan baik bagaimana perasaan setiap tokohnya. Bagaimana mereka “dipaksa” harus memilih karena keadaan walaupun mereka tidak ingin. Terutama untuk Daniel. Aku sangat tersanjung bagaimana sosok Daniel di dalam buku ini. Daniel bisa saja menjadi sosok yang “mungkin” akan terlihat jahat dimata pembaca karena keegoisannya, tapi disini justru sebaliknya. Penulis benar-benar memberi kita semacam pengertian lain tentang arti sebuah kebaikan dan keadilan dalam hidup disaat kita harus memilih. Aku sangat mengapreasiasi karakter Daniel di kisah ini.

Untuk karakter Domi sebagai sahabatnya Rein juga menjadi daya tariknya tersendiri. Karena dukungan dan kata-kata bijaknya untuk Rein yang selalu ada. Benar-benar sosok sahabat yang diidamkan oleh semua umat manusia di muka bumi mungkin J .

Untuk alurnya sendiri menggunakan alur maju-mundur karena ada bagian flashback untuk kehidupan masalalu setiap tokohnya. Walaupun untuk masa lalunya Rein aku tidak merasa itu sesuatu yang harus diungkapkan walaupun mungkin ada sedikit hubungan untuk keterkaitan orang-orang yang selalu pergi dan meninggalkan Rein.

Untuk awal-awalnya aku merasa alurnya terkesan cepat, walaupun di antara Daniel dan Rein tidak ada ungkapan kata-kata untuk berkomitmen tetap saja alurnya terkesan diburu-buru seperti “lohh kok mereka udah gitu”.

Untuk pesan moralnnya, buku ini mengajarkan kita pembaca akan banyak hal atau mungkin malah menyadarkan kita seberapa penting tentang arti sebuah persahabatan, cinta, perbedaan, kasih dan juga tentang kerelaan.
Dari kisah Daniel, Rein dan Livia juga kita dibuat sadar bahwa sebenarnya cinta itu tidak pernah salah. Kalau pun salah pasti ada jalan untuk kembali.

Overall, buku ini sangat bagus untuk menjadi semacam pengobat akan rasa kegalauanmu disaat harus memilih dan tentu saja mengajarkan kita akan banyak hal di dalamnya. Terutama tentang hidup.


Cinta itu, seharusnya membahagiakan. Cinta itu seharusnya membuatmu lebih banyak tersenyum. Kecewa dan kesedihan, tidak sepatutnya berkawan dengan cinta. Karena cinta yang seperti itu, mungkin tidak layak diperjuangkan.” – hlm. 216



R A T I N G 

4 comments:

  1. Pasti dilema banget ketika harus milih antara keinginan orang tua dan pilihan sendiri. Tapi biasanya waktu yang akan memberi pengertian kepada dua pilihan itu. Hanya perlu dipupuk sabar aja.

    Saya penasaran sama kisah full di novel ini. Semoga bisa ada kesempatan untuk membacanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru disini tidak ada campur tangan orang tua, murni karena keputusannya Daniel dan jika sudah membaca buku ini jadi terasa logis dan kita pun bisa memakluminya.

      Aamiin..
      Semoga segera bisa berjodoh sama buku ini yaaa..
      Btw, aku baca buku ini via ipusnas kok :)

      Delete