Wednesday, 11 April 2018

BLOGTOUR, BOOK REVIEW | DURAI, RUMAH BAGI PENYU YANG TERGUGU - WIWIK WALUYO


Judul Buku : Tentang Kita
Penulis : Wiwik Waluyo
Penyunting : Avifah Ve
Tata Sampul : Amalina Asrari
Tata Isi : Violetta
Pracetak : Wardi
Penerbit : Laksana (Diva Press)
Cetakan Pertama, 2018
Tebal Buku : 256 halaman
ISBN : 978-602-407-334-3

B L U R B

Pulau Durai adalah sebuah pulau kosong yang hanya di singgahi penyu. Putri bertumbuh di pulau itu karena mengikuti ayahnya yang bekerja sebagai penunggu pulau. Ketiadaan teman membuat Putri akrab dengan tukik-tukik.

Usia sekolah mengharuskan Putri pindah kepulau lain. Ia tinggal dengan kakaknya yang membuka kedai kopi di dekat spanduk besar bertuliskan DILARANG JUAL BELI TELUR PENYU. Putri gelisah. Pasalnya, di bawah spanduk itu justru berjajar para penjual telur penyu.

Di kepulauan Anambas, berbekal tekad untuk menyelamatkan penyu dari kepunahan, Putri, Awan, dan Geng Penyayang Penyu terus berjuang mewujudkan impian dan cinta mereka.


K I L A S  B A L I K

Sedari kecil sudah berteman dengan kehidupan penyu membuat Putri, seorang remaja yang hanya anak dari seorang penunggu pulau Durai mencetuskan ide untuk melindungi penyu dari pemangsanya, terutama manusia. Spanduk yang bertuliskan larangan untuk tidak melakukan jual-beli telur penyu seakan hanya untuk pajangan semata untuk mempercantik pinggiran jalan di Tarempa.

“Kami adalah Geng Penyayang Penyu! Kami menyayangi penyu dengan berhenti membeli dan mengonsumsi telur penyu! Jadilah berarti dalam hidup yang hanya sekali bersama kami; Geng Penyayang Penyu!” – hal. 191

Pertama kalinya melihat seekor penyu yang sedang bertelur menangis, membuat ke-empat bujang kota Tarempa (Awan, Jay, Acun dan Ical) beserta putri bertekad untuk melindungi kehidupan penyu serta tukik-tukiknya. Walaupun raja Azman pemilik pulau Durai sekaligus ayahnya Awan menentang keras tidak membuat kelima remaja itu menyerah. Malah mereka semakin ingin membuktikan kepada orang-orang dewasa di daerah Tarempa terutama sang raja, bahwa penyu pun ingin hidupnya yang utuh tidak diganggu gugat oleh predator-predator besar terutama manusia itu sendiri.

Namun, di saat mereka sedang mengkampanyekan untuk berhenti mengkonsumsi telur penyu, raja dan Guntur (abangnya Awan) mendatangi masing-masing keluarga mereka berlima dengan diikutsertakan ancaman akan masa depan mereka dan keluarganya di Tarempa, dengan cara untuk menjauhkan anak mereka dari Awan. Bagi keluarga Ical misalnya, hidup mereka sudah pas-pasan ditambah lagi dengan ancaman serius dari sang raja membuat ibunya Ical ‘sangat’ mewanti-wanti anaknya agar tidak dekat-dekat dengan  Awan lagi. Hal itu tentu saja membuat misi mereka akan penyu tertunda dan berhenti mendadak di tambah lagi dengan kekurangannya dana yang mereka miliki untuk membuat kolam tambahan untuk penetasan telur penyu di pulau Durai.

Bagi raja sendiri, pulau Durai itu adalah tempat ia mencari keuntungan dengan menambah pundi-pundi uangnya, walaupun harta yang dimilikinya pun sudah sangat tak terhingga, belum membuat sang raja puas. Apalagi dengan keikutsertaan si bungsu anaknya, membuat raja semakin berang. Berdua bersama anak sulungnya Guntur, raja menolak mentah-mentah ide pelestarian kehidupan penyu di pulau Durai.

Selain memikirkan cara untuk pelestarian hidup penyu dan tukik-tukinya, Awan dan Putri menjadi buly-bulyan geng lainnya. Sama-sama tidak peka akan perasaan satu sama lain, membuat teman-temannya yang lain jadi gemas dan sering mengejek mereka. Di tambah lagi dengan kehadiran Zia, temannya Putri yang dimatanya terlihat dekat dengan Awan. *Putri cemburu euiii ☺☺

Bagaimana kelanjutan aksi GePePe untuk menyelamatkan kehidupan penyu di Pulau Durai? Apakah akan berhasil dengan intimidasi dari sang raja yang menentang keras kegiatan kepedulian mereka terhadap pelestarian penyu?


"Tak mudah mengubah cara pikir seseorang yang sudah puluhan tahun melakoni satu hal secara terus-menerus. Menjadi sesuatu yang wajar, senormal mengambil dan membuang napas." - hal. 68

Ikutan GIVEAWAY-nya jugaa yaa



R E V I E W

Kalau di perbolehkan jujur (siapa yang larang sihh Pid, wkwkw), awalnya aku nggak berekspektasi apa-apa sewaktu baca blurb-nya. Nggak berharap bakal nemu kejutan-kejutan yang bikin ngakak sakit perut karena bahasan receh dari geng bandit (baca; geng GePePe > Geng Penyayang Penyu) dan lagi gaya-gaya mereka yang kocak yang kekinian bangettlahh dengan Bahasa yang digunakan penulis pun ngalir, nggak bikin jenuh pas bacanya. Pokoknya sukaaa bangett sama tema yang di angkat oleh penulis di dalam buku ini.

Alur ceritanya ngalir, terasa real cerita di dalamnya. Apalagi penggunaan Bahasanya ada campur-campur sama logat Malay-nya juga jadi lucu aja. Sukaa sama cara penulis membuat interaksi antar tokohnya terutama sesama gengnya J. Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga, membuat kita paham bagaimana perasaan para tokohnya ketika memperjuangkan nasib para penyu di pulau Durai. Penolakan Raja akan ide mereka yang dianggap tak penting. Aku ikut merasakan semangat juang para tokohnya.

“Jika dibiarkan hidup, aku adalah satu kemungkinan dari seribu telur untuk melanjutkan peradaban bangsaku. Biarkan teman-teman ku hidup, biarkan mereka menjadi satu kemungkinan dari seribu itu!” – hal. 191

Aku baru tahu, kalau penyu itu kalau bertelur sampe 130 butir (maksimalnya). Dan itupun belum tentu bakal netas semuanya, dan lagi kalaupun netas belum tentu bakal selamat dari predator mereka yang ingin memangsa ataupun manusia yang mengambil telurnya untuk dimakan. Baca bagian ini asli miris banget, terenyuh. Apalagi saat bagian penyu menangis L hiks hiks yaa ampun, nyesekk rasanya. Itu seriusan penyu bisa nangis ngeluarin air mata gitu? Aku sampe nanya ke my uncle Google.

Pulau Durai?
Yahh, awal baca blurb buku ini langsung googling tentang pulau Durai. Yang Teryata emang beneran nggak ada terlihat di peta. Pulau kecil yang menyimpan seribu keindahan di dalamnya malah lambat terekspos. Tapi Alhamdulillah sekarang uda mulai banyak pendatang baik itu dari dalam negeri maupun mancanegara yang berkunjung kesana untuk melihat destinasi keindahan yang diciptakan Tuhan disana. (Aku kapan kesananya yaa?)

Buku ini sedikit banyaknya bersetting di Pulau Durai yang terletak di kepulauan Riau yang merupakan kabupaten dari kepulauan Anambas. Pesona yang digambarkan penulis membuat kita sebagai pembaca pasti akan berdecak kagum dan penasaran ingin segera berkunjung kesana (namun ntah kapan L). Pulau Durai juga merupakan tempat tinggalnya Putri bersama Ayahnya, hanya berdua sebelum ia pindah ke kota Tarempa untuk melanjutkan pendidikan kemudian kembali lagi menemani ayahnya dan mengurus tukik-tukik disana.

Btw, Tukik itu sebutan lain untuk bayi-bayi penyu yaa 

Dan yang membuat buku ini berbeda dan special (menurutku) adalah selain karena pengetahuan tentang kehidupan penyunya yang luar biasa nambah wawasan bangett, juga ada dari karakter tokohnya yang unik dan kocak. Terutama Ical yang selalu kemana-mana membawa gitar di pelukannya dan kemudian bernyanyi. Ada Jay, si kribo yang punya hobi mengebrak meja tiba-tiba kalau ia sedang punya ide baru. Siapin jantung aja deh kalau punya teman seperti mereka ini.

Tokoh favorit tentu saja si couple Putri dan Awan. Chemistry keduanya manis #bikinbaperberjamaah Penasaran baper berjamaah ala Putri dan Awan seperti apa? Baca deh buku ini. Kalau nggak baper boleh deh lapor ke aku. #hahahaha

Overall, rekomendasi banget-nget-nget buku ini (SANGAT). Walaupun romance nggak banyak, aku jamin kalian bakalan tetap baperr kok sama manis-manisnya cerita di dalam buku ini. Jadi nambah wawasan juga tentang kehidupan penyu seperti apa, terutama di saat proses penetasan dan bertelur mereka dan lagi saat pelepasan tukiknya kepantai (kayaknya seru banget, aku pengen)


"Tak semua orang suka dengar kata yang bermakna heroik, tak semua orang juga akan terkesan dengan aksi kepedulian. Tapi kalau kita ajak orang untuk sayangi, kupikir semua orang tak keberatan untuk relakan sedikit hatinya demi sesuatu atau hal lain itu." - hal. 123


R A T I N G



Jadi ceritanya ada teman bookstagrammer aku (@gabygabyy_) yang berbaik hati mau berbagi pengalamannya bersama penyu dan tukik-tukiknya. Pernah kapan hari (sebelumnya) menurut Gaby, penyunya bertelur sampe 900an butir telur #wawww apa nggak capek yaa ngeluarinnya. Dan ini ada beberapa dokumentasinya juga. Btw, penagkaran penyu dibawah ini ada di daerah Sukamade, Banyuwangi yaa.

Yang membuat aku semakin penasaran adalah ternyata, apa yang diceritakan sekilas sama Gaby, secara garis besarnya hampir sama dari proses bertelur penyu sampe pelepasannya ke laut sama persis dengan apa yang di paparkan penulis di dalam buku ini juga lohh #jadipenjugakan


1- (Ini penyunyalagi proses mengeluarkan telur-telurnya)


2- (Ini telur-telur penyu yang udah dikumpulin sama 
petugas penagkaran telur penyunya, sebelum nanti di tetasin)


3- (Tukik -bayi penyu- dengan wajah
sangarnya, hahaha) Imuutt yaaa ^-^


4- (Ini tempat penangkaran Tukik-tukik 
setelah menetas mereka siap untuk di lepas ke laut)


5- (Tukik-tukik yang sudah siap untuk
 dilepasin ke laut lepas)



6 comments:

  1. Hai, salam kenal :)

    Pertama, terimakasih sekali reviewnya yang manis, ya. Meluruskan sedikit, satu ekor penyu biasa bertelur maks 130 an. "Satu dari seribu" yang dimaksud adalah, kemungkinan hidupnya secara alami, dari seribu telur yang menetas, hanya akan bertahan 1. Jadi, bukan 1 penyu bertelur sampai seribu, ya...

    sekali lagi, terimakasih banyak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga kak Wiwik :)

      Aku salah paham dong ini. heheh
      Baik baik,sudah aku perbaiki yaa kak. Terima kasih untuk koreksinya.

      Kembali kasih kak,
      dan Terima kasih juga sedah mengenalkan aku dengan kegiatan GePePe yang menginspirasi dan kehidupan penyu di pulau Durai :)

      Delete
    2. Mbak Pida, saya makasih juga lho info tambahan dari Mbak Gaby soal penyu yg bisa bertelur sampai dengan 900 an. ini informasi baru buat sy karena sejujurnya, saya sama sekali belum pernah melihat penyu dan tukik dan apalagi berkunjung ke Durai hehehehe. Semua yg saya tulis hanya riset dr om gugel... Saya benar-benar terharu dengan review mbak Pida dan rasa penasaran Mbak Pida yang begitu tinggi atas penyu setelah membaca buku ini.

      Peluk dari Medan, ya ^_^

      Delete
    3. Sama-sama kak.
      Jujur info tentang penyu ini baru bangett buatku (jauh dari peredaran penyu dan para tukik-tukiknya). Hal pertama yang membuat aku langsung kepoin tentang penyu adalah saat geng bandit berkunjung ke Pulau Durai dan melihat ada penyu menangis. Itu bikin aku jadi terenyuh..

      Wahh,kak Wiwik dari Medan.
      Balas peluk dari Aceh Timur :)

      Delete
    4. sama, pertama tahu kl penyu nangis saya juga ikutan nangis :D

      smg kapan-kapan kita jumpa dan kita dijumpakan ALlah dengan tukik :)

      Delete
    5. Ahhh jadi pengin ketemu sama tukiknya langsung nihh,

      Amiin ya Allah..
      Semoga yaa kak ^-^

      Delete