Thursday, 19 October 2017

Book Review | The Wind Leading To Love - Ibuki Yuki


Judul Buku : The Wind Leading to Love
Penulis : Ibuki Yuki
Penerjemah : Mohammad Ali
Penyunting : Arumdyah Tyasayu
Asisten Penyunting : Eni Puji Astuti
Proofreader : Dini Novita Sari
Cover dan Ilustrasi isi : Bambang ‘Bambi’ Gunawan
Penerbit Haru
Cetakan Pertama, Februari 2015
Jumlah Halaman : 342 halaman
ISBN : 978-602-7742-47-5

BLURB:

Rasa sakit itu merupakan bukti kalau kita masih hidup.

Suga Tetsuji depresi. Menuruti saran dokter, dia mengasingkan diri di sebuah kota pesisir,di sebuah rumah peninggalan ibunya. Namun, yang menantinya bukanlah ketenangan, tapi seorang wanita yang banyak omong dan suka ikut campur bernama Fukui Kimiko.

Fukui Kimiko kehilanagan anak dan suaminya, dan menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab kematian mereka berdua. Dia menganggap dirinya tidak pantas untuk berbahagia.

Setelah menyelamatkan Tetsuji yang nyaris tenggelam, Kimiko menawarkan bantuan pada pria itu untuk membereskan rumah peninggalan ibunya agar layak jual. Sebagai gantinya, wanita itu meminta Tetsuji mengajarinya music klasik, dunia yang disukai anaknya.

Mereka berdua semakin dekat, tapi…


***

Keputusan Tetsuji memilih tempat pengasingan dirinya di sebuah kota kecil yang bernama Miwashi membawa takdirnya bertemu dengan seorang perempuan yang menjuluki dirinya sebagai Bibi yaitu Fukui Kimiko.

Disaat Tetsuji nyaris tenggelam, Kimiko datang menyelamatkannya dan sejak saat itu dengan perjanjian keduanya, Kimiko membantu membereskan rumah peninggalan ibunya Tetsuji agar layak dijual dengan imbalan Tetsuji mau mengajarinya tentang music klasik.

Kehadiran Kimiko di rumah Semenanjung (sebutan untuk rumah peninggalan ibunya Tetsuji) membuat pola hidup sehat untuk dirinya, bahkan perlahan penyakit yang selama ini di deritanya pun perlahan semakin membaik. Dengan berbagai racikan masakan dan minuman yang disajikan oleh Kimiko membuat Tetsuji terbiasa dan betah dengan keberadaan Kimiko yang awalnya sangat menganggu dan suka ikut campur namun perlahan sangat diharapkan kehadirannya.

Dilain sisi, Kimiko masih merasa bersalah atas kepergian suami dan anaknya. Walaupun menampilkan wajah ceria dan bahagianya kepada orang-orang yang disayanginya, di dalam hati tetap ada penyesalan yang terus menghantuinya. Hingga kemunculan dan kedekatannya dengan Tetsuji membuatnya berharap lebih untuk kebahagiaannya. Namun melihat langsung bagaimana sosok istri Tetsuji yang masih mengharapkan kebaikan untuk keluarga mereka dan penampilan serta kedudukan sosial yang disandang oleh Tetsuji membuat Kimiko berpikir ulang akan semua hal. Kimiko dan Tetsuji bagaikan langit dan bumi. Dengan sifat ketidakpercayaan dirinya itu membuat Kimiko urung untuk bermimpi dan berharap lebih.

“Aku ingin dicintai,
Seperti aku mencintaimu.” (hal. 322)

The Wind Leading to Love mengajarkan tentang banyak hal melalui kisah dua tokoh utamanya, Tetsuji dan Kimiko yang sama-sama terluka dan saling menyembuhkan. Seakan dalam satu buku mengisahkan kisah kompleks dengan masalah yang dihadapi para tokoh utamanya; tentang hidup, cinta, keluarga, kematian, mimpi, dan harapan.

Kisah yang di awali dengan masalah pelik yang di alami oleh Tetsuji. Masalah pekerjaan kantornya yang seakan sangat membebaninya dan lagi masalah keluarganya yang tiada akhirnya membuatnya imsomnia dan bahkan nyaris terkena flu hati. Aku sangat memahami bagaimana posisi dan perasaan stress dan beban hidup yang dipikul oleh Tetsuji dengan pekerjaannya. Menjadi seorang pegawai di perusahaan orang lain yang dituntut untuk memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Di saat tuntutan pekerjaan semakin tinggi ditambah dengan masalah keluarga, istri yang memilih ‘pending’ untuk nasib pernikahannya. Bukankah hal itu sangat kejam? Di saat bersamaan pasti ada rasa ingin membebaskan diri dari semua beban dan tanggung jawab. Tak dipungkiri juga banyak orang yang menyelesaikan masalahnya melalui jalan pintas seperti bunuh diri misalnya. Dan Tetsuji seharusnya bersyukur diselamatkan oleh Kimiko di saat ia nyaris tenggelam.

Sosok Kimiko digambarkan sebagai seseorang yang ceria yang hidupnya seperti tanpa beban. Seseorang yang juga berbicara blak-blakkan tanpa dipikirkan terlebih dahulu.. Padahal di balik itu semua, Kimiko hanyalah seorang wanita yang kesepian selama ditinggal pergi oleh suami dan anaknya dengan kepergian yang sangat ia sesali seumur hidup dan bahkan penyesalan yang berkepanjangan. Dari kecil hingga dewasa, Kimiko pun hidup dengan keluarga yang tidak harmonis, sehingga membuatnya terpaksa harus bersikap dewasa sebelum waktunya. Seperti anaknya Tetsuji, Yuka. Walaupun umurnya masih kecil tapi ia mengerti jika kedua orang tuanya selalu bertengkar. Di saat anak seumuran dirinya mencari perhatian kedua orang tuanya, seorang anak dengan kondisi keluarga yang tidak baik, pasti akan berpikir bagaimana caranya agar ia tidak merepotkan dan menambah beban kedua orang tuanya. Bukankah anak yang seperti itu diberi penghargaan? Bukan malah disalahkan dan dikambing-hitamkan atas kehadirannya.

"Anak yang terdidik dalam keluarga dengan hubungan orang tua yang buruk, akan lebih cepat dewasa." (hal. 283)

Kehadiran Mai-chan seorang gadis muda, membuat buku ini ada sisi hiburannya dengan tingkah polos dan blak-blakkannya. Yang sangat membekas diingatanku adalah di saat Mai-chan sedang membahas perawatan tubuh ^-^ yaa ampun bahasanya itu, luar biasa. Dan Kimiko dengan sifat baik hatinya malah mau saja bertanya dengan Tetsuji atas pemaksaan dari Mai-chan. Hehehehe

Bahasa terjemahannya sangat baik, walaupun ada keganjalan dengan bahasa terjemahan menggunakan kata ‘anu’ yang sering digunakan di setiap percakapan para tokohnya (yang aku yakin, di Jepang kata ‘anu’ tidak ada dikamus mereka). Tapi aku merasa baik-baik saja dengan kata ‘anu’ itu. Dan lagi percakapan mereka yang sedikit banyaknya membahas tentang hal-hal yang berkonten dewasa, tidak membuat aku risih atau merasa tidak nyaman. Karena cara penulis (dan terjemahannya) membuat aku biasa-biasa saja menyikapi hal tersebut dan bahkan malah terkesan lucu dengan pembahasan tersebut.

Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga secara bergantian antara Tetsuji dan Kimiko membuat aku bisa memahami bagaimana perasaan keduanya menjalani hidup yang begitu keras. Dan wajar saja, disaat mereka sedang melarikan diri dari beban masalah hidup, tiba-tiba mereka dipertemukan dan Kimiko dengan segala perhatiannya dan Tetsuji dengan semua penerimaannya terhadap jerih payah Kimiko untuk kesehatannya yang perlahan membuat mereka dekat dan nyaman satu sama lain.

Dengan sajian konflik yang ringan (menurutku), tentang seputaran keluarga, beban hidup yang berkepanjangan dan harapan dari seseorang membuat novel ini seperti kita melihat kisah orang-orang disekitar kita dengan konflik yang sama. Banyak pembelajaran yang bisa di petik dari membaca buku ini. Karena apa yang ingin disampaikan oleh penulis melalui kisah dan masalah Tetsuji dan Kimiko tersampaikan dengan baik. Membuatku kadang bertanya-tanya sudah puaskah aku dengan hidupku yang sekarang? Walaupun tidak dipungkiri juga, aku tetap akan bersyukur dengan apa yang sudah aku raih. Namun seperti halnya Tetsuji dan Kimiko, hidup ini bukan untuk dijadikan sebuah beban dan paksaan saat menjalaninya, tapi dijalani dengan ikhlas dan rasa nyaman serta kebahagiaan yang melingkupi.

Oiya, selain kisah manis antara Tetsuji dan Kimiko, buku ini juga membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia musik klasik dan Opera. Bagi pembaca yang ingin belajar tentang musik klasik, bisa memulainya dengan mencoba mendengar seperti halnya yang dilakukan oleh Kimiko (lumayanlah bisa menambah wawasan terkait dua hal ini). 

Untuk ending-nya sendiri, penulis sangat mahir untuk membuat aku sangat penasaran dan tidak sabaran. Karena adanya twist yang tidak terduga dan aku sangat suka dengan cara penulis menutup kisah ini dengan baik. Dan kisah Tetsuji dan Kimiko ini memang sangat pantas memenangkan ajang Poplar Novel Award ketiga sebagai juara pertama.

R A T I N G 


2 comments:

  1. Novel seperti ini kalau dijadikan drama Jerpang psti bagus banget krn ada nilai2nya itu ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa banget April...
      Dan aku nggak bisa banyangin siapa yang cocok peranin tokohnya Kimiko kalau benar2 dijadikan drama, dengan karakter yang asal ngomongnya itu #lucu

      Delete