Wednesday, 4 October 2017

Book Review | The Passionate Marriage: Pernikahan dan Kepercayaan by Indah Hanaco


Judul Buku : The Passionate Marriage
Penulis : Indah Hanaco
Desainer Kover : Dyndha Hanjani P
Piñata Isi : Putri Widia Novita
Tebal Buku : iv + 244 halaman
Cetakan Pertama, Maret 2017
ISBN : 978-602-375-844-9

BLURB :

Tentang Gwen,
Dia punya keindahan tersendiri. Pesona yang melampaui keelokan fisik yang juga dimilikinya.
Di zaman serba sinting ini, menemukan perempuan seperti dia, mungkin mendekati langka. Sayang, dia terlalu takut untuk menyerahkan hatinya.

Tentang Phillip,
Dia kian menawan karena kelembutan dan hati yang penuh kasih. Juga menjanjikan cinta yang takkan pernah berkhianat. Namun, tetap saja dia pria menawan yang memikat banyak hati, magnet bagi banyak mata.
Mungkinkah dia takkan pernah mematahkan janjinya?

Mereka sama-sama saling menginginkan.

Tapi yang satu tak punya keberanian untuk membuka hati dan menghadapi cintanya. Hingga sebuah tragedi membuka pintu terkunci yang selama ini tak pernah diyakini keberadaannya. Saying, tatkala mereka sepakat melangkah ke sana, ada banyak sekali jebakan yang siap memusnahkan semua perasaan.

Mungkinkah, CINTA MEREKA CUKUP TANGGUH untuk menang dan membungkam segala persoalan?


Kilas Balik The Passionate Marriage 

Masing-masing dari setiap perempuan khususnya, pasti menginginkan pernikahan impiannya dengan seseorang yang mencintai dan dicintai dan hidup bahagia. Namun hal itu tentu saja hanya diangan belaka. Karena setiap pernikahan pasti ada rintangan dan masalah-masalah yangharus dihadapi oleh setiap pasangan.

Begitu pun dengan kisah yang ada di balik cover nuansa putih ini The Passionate Marriage.

Berawal di saat Phillip untuk pertama kalinya membeli makan siangnya di dapur keliling tempat Gwen bekerja, di saat itulah keduanya merasakan sesuatu yang berbeda. Phillip selalu mengajak Gwen untuk berkencan danselalu ditolak Gwen dengan halus. Bukan tanpa alasan Gwen selalu menolak ajakan Phillip. Melihat kondisi keluarganya dan masa lalunya yang mengerikan Gwen takut akan tersakiti untuk kesekian kalinya.

"Tadinya aku ke sini untuk mengajakmu pacaran. Sekarang, aku menginginkan hal lain. Aku ingin menikah denganmu. Karena aku ingin menjagamu. Dan juga karena aku jatuh cinta padamu." (hal. 36)

Hingga suatu malam, sebuah tragedi terjadi pada Gwen. Phillip yang tidak ingin terjadi sesuatu lagi kepada Gwen, akhirnya mengajak Gwen untuk menikah. Karena janji Phillip dan melihat kesungguhan Phillip untuk melindungi keluarganya membuat Gwen menerima lamaran Phillip tanpa menunggu lama untuk berpikir.

Pernikahan mereka pun dirayakan di Lombok dalam kurun waktu 3 hari. Semuanya serba cepat tanpa ada diantara mereka yang saling mengenal satu sama lain. 

Pernikahan yang awalnya terasa menggebu-nggebu, terutama bagi Gwen yang sangat beruntung mendapatkan seorang suami seperti Phillip yang memberikan perasaan cinta dan kasih sayangnya begitu melimpah tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk kedua adiknya. Walaupun demikian,Gwen tetap merasa bersalah dan was-was dengan masa lalunya yang tidak semuanya ia ceritakan kepada Phillip. Gwen belum siap menerima respon dari Phillip.

Hingga suatu hari mereka kedatangan tamu yang sama sekali tak diundang dan tentu saja sangat mengejutkan Gwen dan adik-adiknya. Elvi. Seseorang yang berasal dari masa lalunya dan nyaris dilupakan Gwen begitu saja karna Elvi berkaitan erat denganmasa lalunya.

Masalah seakan terus berdatangan, Gwen yang tiba-tiba di pukul secara brutal oleh seorang laki-laki yang ingin menculiknya dan pengakuan seorang perempuan yang mengaku jatuh cinta dengan suaminya dan akan merebut posisi Gwen.

Apa yang akan dilakukan oleh Phillip dan Gwen untuk mempertahankan pernikahan mereka dengan masalah yangterus berdatangan? Apakah mereka akan hidup bahagia?

***

The Passionate Marriage merupakan sequel dari Delicious Marriage (baca review-nya disini). Membaca buku ini dari halaman pertama selalu membuat penasaran akan seperti apa nasib pernikahan Gwen dan Phillip. Sama serunya dengan mengikuti kisahnya Mily dan Keith. Oh iya, buku ini bisa dibaca sendiri, tanpa harus terlebih dahulu membaca cerita DM, karena tidak ada keterkaitan yang berarti kecuali benang merah persahabatan yang terjalin antara Phillip, Keith dan Rafe.

Pernikahan tidak serta merta hanya tentang sebuah hanppy ending, namun pernikahan adalah dari semuanya. Dari kita yang tidak hanya memikirkan diri sendiri tapi orang lain yang akan berbagi dengan hidup kita ke depannya. Begitu pula yang di rasakan oleh Gwen yang selama ini ia yang bekerja keras untuk kedua adiknya, memberi kehidupan layak kepada keluarganya tanpa perlu memikirkan masa lalunya yang kelam. Namun semua itu perlahan harus ia ubah, karena menikah tentu saja ia harus berbagi apa pun.

Aku bisa memahami di saat Gwen tidak menceritakan satu kejadian di masa lalunya yang terasa menjijikkan untuk dirinya sendiri. Hidup yang dijalani Gwen memang sangat luar biasa untuk seorang gadis yang duduk di bangku SMA kala itu sudah menanggung beban yang begitu berat yang seharusnya belum waktunya. Dan hal itu memang patut diapresiasi. Antara memilih suami yang telah memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada Gwen atau membuka luka lama yang telah dikuburnya dalam-dalam.

Dalam sebuah pernikahan kejujuran, kepercayaan, dan saling terbuka (komunikasi) satu sama lain memang menjadi poin penting dalam keharmonisan sebuah rumah tangga. Jika hal itu tidak di dasari, pasti akan ada kelahpahaman-kesalahpahaman lainnya akan muncul perlahan-lahan.

Untuk chemistry kedua tokohnya aku kurang dapat, ntahlah terasa menggebu-gebu dan terlalu cepat untuk keduanya yang tergolong menikah tanpa ada perkenalan lebih lanjut. Walaupun demikian kisah manis di antara keduanya tetap saja buat baper bagi pembacanya. hehehehe

Selain dua tokoh utamanya, aku sangat menyukai interaksi yang melibatkan Inge Vivit, adik kembarnya Gwen yang serba blak-blakkan dan asal ceplos kalau bicara. Percakapan terasa lebih berwarna dan tidak hanya melulu hubungan Gwen dan Phillip saja. Dan lagi kehadiran sahabat-sahabatnya Phillip, Keith dan Rafe. Hubungan kekeluargaan dan persahabatan di antara mereka sangat mengharukan. Saling melindung satu sama lain, kekompakan yang terjalin membuat buku lebih seru dan tidak bosan. 

Ahhh iya, ada satu yang masih menjanggal dan aku rasa itu terlewati (mungkin) yaitu alasan dibalik kebencian Elvi kepada Gwen. Bagian ini tidak di ceritakan sekaligus menggantung dan jadinya aku hanya menebak-nebak alasannya apa dan kenapa. 

Untuk alurnya sendiri mengunakan alur maju, walaupun ada beberapa bagian menggunakan alur mundur. Dan lagi ntah aku saja yang merasa atau mungkin pembaca lain ikut merasakan juga, alur di buku ini terkesan cepat dan terburu-buru. Contohnya saja, pada bagian konfliknya. Konfliknya memang tergolong ringan. Konflik yang muncul satu persatu dan secara bergantian. Selesai konflik satu, muncul konflik yang baru begitu seterusnya. Terasa seperti dipaksakan harus selesai,dan kurang di eksekusi. Dan untuk penyelesaiannya aku tetap suka kok. Cara Gwen dan Phillip menghadapi serta mengatasi masalah-masalah yang datang ke dalam keluarga mereka. Pernikahan bukan lagi tentang satu orang, tapi dua orang yang sudah mengikat janji dan saling bekerja sama untuk menjaga ikrar janji tersebut.

Karena sedikit banyaknya adegan 17+ ke atas yang bikin panas dan kipas-kipas, walaupun tidak berlebihan, tetap saja yang baca harus bijak mnyikapinya yaa terutama  umur.

Overall, buku ini aku rekomendasikan untuk kamu yang suka membaca kisah romance yang manis, dan juga untuk kamu yang belum menikah, sudah menikah dan akan menikah. Karena tidak hanya kisah manisnya saja, tapi juga pesan-pesan moral di balik sebuah hubungan pernikahan.

*Pss, aku sangat menantikan kisahnya Rafe yang semoga bisa lebih seru dan kocak, hehehe.. Melihat kemunculan mereka di buku ini, semakin membuat penasaran akan hubungan keduanya, Jana dan Rafe.

R A T I N G 


No comments:

Post a Comment