Wednesday, 14 June 2017

BOOK REVIEW | THE SCHOOL FOR GOOD and EVIL #1 - SOMAN CHAINANI


Judul Buku : The School For Good and Evil
[Sekolah Kebaikan dan Kejahatan]

Penulis : Soman Chainani
Ilustrasi : Iacopo Bruno
Pengalih Bahasa : Kartika Sofyan
Penyunting : Agatha Tristanti
Penata Letak : Veranita
Desain : Yanyan Wijaya
Penerbit : Bhuana Sastra
Jumlah Halaman : 580 halaman
Terbit : 2014
ISBN : 978-602-249-756-1
Harga Buku : (Bukabuku.com )


BLURB :

Tahun ini, Sophie dan Agatha digadang –gadang menjadi murid Sekolah Kebaikan dan Kejahatan yang legendaries, tempat anak-anak laki-laki dan perempuan dididik menjadi pahlawan dan penjahat dalam dongeng. Dengan gaun pink, sepatu kaca, dan ketaatannya kepada kebajikan, Sophie sangat yakin akan menjadi lulusan yang terbaik Sekolah Kebaikan sebagai putrid dalam dongeng.
Sementara itu, Agatha, dengan rok terusan warna hitam yang tak berlekuk, kucing peliharaan yang nakal, dan kebenciannya pada hampir semua orang, tampak wajar dan alami untuk menjadi murid Sekolah Kejahatan.

Namun ketika dua gadis itu diculik oleh Sang Guru, terjadi sebuah kesalahan. Sophie dibuang ke Sekolah Kejahatan untuk mempelajari Kutukan Kematian; sementara Agatha masuk ke Sekolah Kebaikan bersama para pangeran tampan dan putrid cantik mempelajari Etiket Putri. Bagaimana jika ternyata kesalahan ini adalah petunjuk pertama untuk mengungkap diri Sophie dan Agatha yang sesungguhnya?

Sekolah Kebaikan dan Kejahatan menawarkan petualangan luar biasa dalam dunia dongeng yang menakjubkan, dimana satu-satunya jalan keluar dari dongeng adalah… bertahan hidup. Di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan , kalah bertarung dalam dongengmu bukanlah pilihan.


Kilas Balik Kisah Sekolah Kebaikan dan Kejahatan 

 “Yah, di Sekolah kebaikan, mereka mengajari anak laki-laki dan perempuan seperti aku, cara menjadi pahlawan dan putrid, bagaimana cara memimpin kerajaan secara adil, bagaimana cara menemukan Kebahagiaan Abadi. Di sekolah Kejahatan, mereka mengajarimu cara menjadi penyihir kejam atau troll bunting, juga cara menerapkan kutukan dan merapalkan mantra jahat.” – Sophie

Bagi anak-anak Govaldon lainnya di culik oleh Sang Guru kemudian dimasukkan ke Sekolah Kebaikan dan Kejahatan merupakan hal yang menakutkan. Namun berbeda dengan Sophie yang sudah menanti penculikan itu terjadi pada dirinya. Karena Sophie merasa jika dirinya sangat layak di masukkan ke Sekolah Kebaikan bertemu dengan pangeran-pangeran tampan yang selama ini selalu di idam-idamkannya, menjadi seorang putri yang cantik dengan sepatu kacanya. Sophie sudah melakukan semua  hal yang menyangkut perbuatan baik, yang ‘menurutnya’ hal tersebut sudah layak bisa memasukkan Sophie ke Sekolah Kebaikan.

Lainnya halnya dengan Agatha. Bagi Agatha apa yang di lakukan temannya Sophie sangat tidak masuk akal, karena Agatha tidak percaya sama sekali dengan hal yang menyangkut Sekolah Kebaikan dan Kegiatan. Apalagi dengan tampilannya yang menyeramkan dengan rambut penuh dengan minyak, pakaian warna hitam,tinggal di kuburan, yang kata Sophie ia sangat cocok di masukkan di Sekolah Kejahatan untukmenjadi seorang Penyihir.

Namun pada suatu malam, di saat terjadinya penculikan, terjadinya sebuah kesalahan (menurut Sophie). Sophie di campakkan ke lubang penuh air yang menjijikkan di Sekolah Kejahatan, sedangkan Agatha di masukkan di Sekolah Kebaikan. Benarkah terjadinya kekeliruan yang di lakukan oleh Sang Guru untuk mereka berdua? Atau memang seperti itulah pada kenyataannya? Apa tujuan Sang Guru memasukkan mereka ke Sekolah yang berbading terbalik dengan tampilan Agatha dan Sophie?

Agatha merasa dirinya asing di tempat ‘indah’ yang menurutnya sangat konyol itu, dan berusaha untuk menemukan Sophie dan membawa mereka pulang di Govaldon. Sedangkan Sophie berusaha keras untuk bisa kembali ketempat yang seharusnya ia berada ‘di Sekolah Kebaikan’ bukan Sekolah Kejahatan. Berbanding terbalik dengan niat Agatha. Apakah keduanya berhasil?

“Anak-anak Ever memimpikan cinta dan Kebahagiaan, para Never mencari dunia yang sunyi dan kekuatan.”

Dan untuk bisa kembali dan mencapai apa yang menjadi tujuan mereka masing-masing, mereka harus bisa melewati berbagai rintangan dan teka-teki dari Sang Guru untuk dipecahkan dan keluar dari kisah Dongeng mereka sendiri yangsudah ditulis.

***
Di Hutan Purbakala
Berdirilah Sekolah Kebaikan dan Kejahatan
Dua Menara Bagai Kepala Kembar
Satu Untuk Yang Tulus
Satu Untuk Yang Keji
Sia-Sia Mencoba Kabur
Satu-Satunya Jalan Keluar Adalah
Melalui Dongeng

Aku baru sadar ternyata cerita Fantasi dan Romance menyediakan sesuatu yang berbeda yang membuat pembacanya memiliki kecanduannya masing-masing terhadap dua hal tersebut (karena selama ini aku selalu berada di zona nyaman aku – Romance). Fantasi menurutku cerita yang berat yang mengharuskan pembacanya untuk membayangkan apa saja kejadian-kejadian yang terjadi di dalamnya secara bebas, dan hal itu butuh konsentrasi. Jika tidak dibayangkan, pasti akan terasa hambar ceritanya. Tidak ada keseruan dan ketegangan selama membaca. Dan hal inilah yang terjadi selama aku membaca kisah petualangan Sophie dan Agatha di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan.

Aku orangnya jika membaca sesuatu atau kisah yang menarik dan mustahil untuk bisa menjadi kenyataan malah membuat aku bertanya-tanya akan fakta dari kejadian tersebut (walaupun aku sadar itu adalah fantasi), kerap muncul pertanyaan ‘bagaimana jika hal yang terjadi pada tokoh di buku ini jadi kenyataan atau terjadi di kehidupan nyata?’ dan aku akan berpendapat sama seperti Agatha ‘ itu sangat konyol’. Dan hal inilah yang membuat aku sangat menghindari cerita fantasi namun ntah kenapa akhir-akhir ini malah membuat aku kecanduan dengan cerita-cerita fantasi.

“Hanya setelah Nemesis kalian mati, rasa haus kalian bisa terpenuhi. Hanya setelah Nemesis kalian mati, kalian bisa merasa bebas. Bunuh Nemesis kalian dan Nevermore akan menyambut kalian di Kemenangan Abadi.”

Okey, balik lagi ke Sekolah Kebaikan dan Kejahatan. Dari awal lembar pertama hingga akhir, jujur aku bacanya secara perlahan-lahan, bukan karena alur ceritanya nggak seru atau membosankan malah sebaliknya. Aku membacanya secara perlahan-lahan dengan maksud agar semua kejadian – khusus yang terjadi di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan – aku resapi, nikmati semua kejadiannya, ketegangannya, dan juga bisa dibayangkan. Dan hal tersebut membuat aku puas dengan kisah yang penuh misteri dan kerap sekali membuat aku bertanya-tanya setiap di bagian tertentu. Dan untuk twist-nya di dalam buku ini patut di acungi 5  jempol (kalau ada). Kalau boleh jujur, ini buku yang sangat membuat aku gregetan ‘banget’ dari awal munculnya konflik dan perseteruan di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan.

Bukan hanya di kisahkan tentang fantasi dongeng semata, di dalam buku ini juga menyajikan tentang perseteruan antara persahabatan, percintaan, dan juga pembalasan dendam. Alur cerita yang unik yang jarang ditemukan serta membuat siapapun yang membacanya (aku yakin) pasti akan terpukau dengan kisah petualangan para tokohnya.

Melalui buku ini juga pembaca di ajarkan untuk jangan menilai seseorang atau sesuatu (apa pun itu) dari tampilan luarnya saja, atau yang tampak dari luar saja. Karena hal tersebut belum tentu mencerminkan sesuatunya dengan benar. Dan itu bukan hanya penilaian dari orang saja, namun termasuk penilaian diri kita terhadap diri sendiri (yang kadang-kadang bisa juga terjadinya kesalahan).

Membaca buku ini, siap-siap saja dibuat campur-aduk dan geram dalam waktu bersamaan (nggak bisa berhenti -terus lanjut baca). Untuk penokohannya, aku terlalu kesal dengan sifatnya Sophie yang keras kepala, yang selalu menobatkan dirinya sebagai putri yang layak mendapatkan seorang pangeran tampan yang ‘seharusnya berada di Sekolah Kebaikan mempelajari tentang hal-hal kecantikan dan sebagainya bukannya malah mempelajari tentang ilmu-ilmu sihir dan mantra-mantra untuk seseorang yang jahat, dan selalu mengatakan dirinya itu orang yang baik, baik, dan terus baik. Padahal tanpa sadar kebaikan yang dilakukannya itu selalu pamrih. Lain halnya dengan Agatha, ia tidak perduli dengan Sekolah dongeng dengan segala macam pelajaran yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman itu, yang ia pedulikan hanya bagaimana caranya supaya Agatha bisa membawa keluar Sophie dari Sekolah Kejahatan dan kemudian membawa mereka pulang kembali ke rumah mereka di Govaldon.

Untuk ending-nya, aku sangat puas dan sekaligus membuat terharu dengan pilihan Sophie dan Agatha. Walaupun ada beberapa teka-teki yang sedikit membingungkan di akhir ceritanya,terutama pada sosok Sang Guru yang menurut aku masih sebuah tanda tanya dan misteri. Meski demikian (aku sangat berharap) hal tersebut terjawab di buku selanjutnya.

Yang menyukai suasana ketegangan, suram, dan bagaimana seluk beluk kegiatan yang berbeda dari yang lainnya yang ada di Sekolah Kebaikan dan Kejahatan, well buku ini wajib dibaca. Kalau untuk recommended buku ini memang sudah sangat layak aku rekomendasikan untuk jadi reading list kamu selanjutnya (jangan sampai dilewatkan) *jangan sampai nyesal lohh.. Bisa di baca untuk semua kalangan juga.

R A T I N G


No comments:

Post a Comment