Saturday, 3 June 2017

BOOK REVIEW | HOUSE OF SECRETS #1 - CHRIS COLUMBUS & NED VIZZINI


Judul Buku : House Of Secrets #1
Penulis : Chris Columbus & Ned Vizzini
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Penyelaras Aksara :Nunung Wiyati
Penata Aksara : Nurul MJ
Perancang Sampul : Vinsen
Penerbit : Noura Books
Terbit : April, 2015
Jumlah Halaman : 438 halaman
ISBN : 978-602-0989-46-4
Harga Buku : IDR. 63.200 (Off 20% di Bukabuku.com)

BLURB :

Rumah itu bertengger di tepi tebing menghadap langsung ke laut---tiga lantai bergaya Victoria dan dikelilingi pepohonan pinus. Mr. dan Mrs. Walker hampir tak percaya akan keberuntungan mereka telah mendapatkannya dengan harga murah.



Lain halnya dengan Cordelia, Eleanor, dan Brendan Walker yang langsung curiga. Ada sesuatu yang janggal di rumah itu. Bukan saja tua dan berbau lapuk, di sana mereka juga merasa seolah-olah ada yang mengawasi.



Kelebatan sosok misterius, patung malaikat yang bisa menjelma, perlahan semua keanehan rumah itu menampakkan diri. Tiga bersaudara Walker pun harus melalui petualangan seru demi mengetahui kebenaran tentang rumah penuh rahasia itu.


House Of Secrets by Chris Columbus & Ned Vizzini

Berawal dari satu insiden yang membuat hidup keluarga Walker berubah drastis. Suatu hari Dr. Walker mendapat tawaran rumah di 128 Sea Cliff Avenue yang bergaya Victoria yang sangat murah dan tidak masuk akal harganya, jika melihat model rumah dan segala macam perabotan mewah yang ada di dalamnya. Dan lagi rumah tersebut merupakan mantan tempat tinggal dari seorang penulis yang tidak banyak dikenal, yaitu Denver Kristoff.

Di hari mereka ingin melihat-lihat keadaan dan kondisi rumah, anak-anak Walker; Cordelia, Brendan dan Eleanor sudah merasakan aura-aura mencurigakan dari rumah tersebut,terutama pada sosok misterius yang tiba-tiba muncul dan sebuah patung malaikat yang indah namun mencurigakan. Dan di saat kepindahan keluarga Walker ke rumah tersebut, kedatangan seorang nenek-nenek yang mengaku sebagai Dahlia Kristoff, anak dari Denver Kristoff menambah aura gelap yang menaungi rumah tersebut.

“Petualangan Menegangkan Hingga Titik Akhir …”
J.K. Rowling

Sebenarnya kalau untuk yang fantasi dan petualangan atau semacamnya, aku lebih menikmati melihat langsung dari pada membaca bukunya. Tapi untuk buku ini pengecualian. Nggak ada salahnya kan aku mencoba hal-hal yang belum pernah aku lakuin. Hehehe.. Dan hasilnya (aku mau jujur), lebih sadis dan mengerikan membaca dari pada melihat tontonan yang berpetualang atau dunia fantasi gitu.

Contohnya, saat aku membaca novel ini. Aura kegelapannya lebih dominan dan aku sedikit merasa terintimidasi, lebih deg-degan dan was-was menanti hal-hal apa lagi yang akan muncul di hadapan anak-anak Walker.

Meski demikian, aku tetap suka dengan gaya berceritanya dua penulis yang berhasil menggabungkan dunia petualang yang luar bisa dan menegangkan yang di alami oleh anak-anak Walker + Willy sang pilot tempur. Dan lagi terjemahan dari penerbit Noura Books – oke punya, nggak kaku. Alur cerita yang menengangkan namun dibumbui dengan tingkah laku polos dan pertengkaran-pertengkaran anak-anak yang sungguh membuat geleng-geleng kepala terutama tingkah Eleanor (yaa ampunn aku suka bangett dengan karakternya Eleanor ini) yang sangat menggemaskan.

Petualangan anak-anak walker  dimulai dari si penyihir angin membawa mereka (dalam sekejap) ke dunia ntah berantah berasalnya (di bagian ini aku gebayanginnya seperti film Zaruntha yang rumahnya terangkat ke luar angkasa – hampir sama), dengan pepohonan yang tinggi dan besar dan disini mereka bertemu dengan sekelompok pasukan barbar yang mencoba untuk menangkap mereka dan pertemuan pertama dengan pilot nyasar, Will Drapper sang pilot tempur. Dan dari sinilah awal mula mereka mencari dimana letak Kitab Petaka dan Hasrat sesuai yang diinginkan (diminta) oleh penyihir Angin untuk mereka temui dengan imbalan mereka akan dikembalikan ke dunia nyata dan bertemu kedua orang tua mereka.
Kemudian bertemu dengan Gergasi si raksasa (ini bagian yang paling aku suka, karena tingkah Eleanor yang sok ramah dengan Fat Jagger – nama yang diberikan Eleanor kepada Gergasi). Kemudian terdampar ke samudra dan bertemu dengan sekelompok bajak laut yang menuduh mereka sebagai penyihir, dan kerangka-kerngka tulang yang bernyawa alias hidup dan terus mengejar mereka. Dan kemunculan kitab Petaka dan Hasrat yang tiba-tiba tidak mengenal tempat dan lagi cobaan mereka (anak-anak Walker) yang berusaha keras untuk bisa bertahan dari godaan hasrat egois yang dipengaruhi oleh Penyihir Angin. Kemudian pertempuran di Kastel Corroway tempat Ratu Daphne (sosok asli Ratu Daphne ini sangat diluar dugaan – nggak nyangka banget) yang terkenal kejam dan suka menyiksa jari-jari anak dengan bantuan dari para pasukan Resistance.

Deskripsi dunia fantasi dan petualangnya dapet banget di novel ini. Serasa lagi nonton sebuah film petualang dan aku langsung dapat apa yang aku baca dan langsung negbayanginnya (setiap adegan-adegannya di pikiranku). Proses peleburan antara kemunculan satu tokoh satu dan kemudian muncul tokoh lainnya nggak kerasa janggal – pas.

Untuk karakter tokoh-tokohnya, yang paling aku suka itu si Eleanor si bungsu Walker (yaa ampuuun,ngegemesin bangett ini anak). Di satu sisi Eleanor ini bisa bersikap dewasa dan tingkah polosnya ituuu, iiieeee, gemesss asli. Dengan kemampuannya yang biasa-biasa saja dengan penyakit disleksia-nya juga, Eleanor berusaha membantu kakak-kakaknya dengan kemampuan dan kepintarannya yang ia punya sebisa mungkin. Dan yang khasnya Eleanor ini adalah, kalau sudah melihat kuda matanya langsung berbinar-binar, dan langsung menagih kapan dibelikan dan bisa memelihara kuda dirumah mereka, hahaha.

Cara keluarga Walker mendidik anak-anaknya sangat baik untuk dicontoh. Misalnya saja untuk Eleanor yang mengidap Disleksia, mereka sekeluarga tidak memojokkannya, tapi ketika Eleanor salah membaca atau terbalik membaca kata/kalimat tertentu, ia akan di tuntun dan diberi semangat untuk terus menjadi lebih baik dan diberi pujian biar semangatnya untuk menjadi lebih baik termotivasi dengan sendirinya (ini kereen).. Apalagi sewaktu anak-anak Walker tersesat di dunia buku, kekeluargaan dan kekompakan di antara mereka tuhh bikin terenyuhh*asekkk

Kekompakan yang terlihat di antara anak-anak Walker pun luar biasa. Di saat badai dan masalah menghadang, mereka tetap mengingat satu sama lain (berusaha untuk tetap bersatu) dan saling bekerja sama (mengeluarkan ide-ide pikiran masing-masing) untuk bisa menyelesaikan dunia petualang mereka dengan satu tujuan bisa kembali lagi bersama kedua orang tuanya. Nah, disini patut di contoh.

Walaupun untuk ukuran anak-anak dan masalah petualangnya dengan orang dewasa, sedikit nggak masuk di akal sihh. But, kereenlahh. Malah aku yang baca jadi tertutupi (nggak terganggu) dengan usia mereka yang masih anak-anak harus berhadapan dengan orang-orang besar. Apalagi saat pertarungannya di menara Kastel Corroway (anak kencil bertarung? wkwkwk

Saat membaca novel ini pun, aku nggak bisa jauh-jauh dari google. Kenapa? Ada beberapa hal yang menarik di dalam novel ini dan membuat aku bertanya-tanya tentang fakta yang sebenarnya yang mungkin kebetulan sama dengan yang terjadi di dunia nyata. Contohnya saja, gempa bumi terbesar yang terjadi di San Fransisco yang kalau di dalam novel ini punya kaitan erat dengan Kitab Petaka dan Hasrat. Bahkan alamat rumah Kristoff pun tak luput dari pencarian aku di google, wkwkkwkw (maklum, jiwa penasaran aku lebih besar dari pada pergi ke toilet *ehh?? – abaikan!)

Novel ini tidak jauh-jauh dengan aura-aura buku dan perpustakaan. Apalagi para tokoh utamanya terjebak di dalam dunia fantasi dari setiap buku yang ditulis oleh Denver Kristoff dan tokoh-tokoh fiksinya. Huhuhu… dan untuk ending-nya sendiri, lumayan memuaskan lahh, walaupun harus dilanjut ke seri 2 nya. Dan apa yang dilakukan Eleanor di akhir, benar-benar nggak tertebak sama sekali. Aku kira dia menghilang kemana, ternyata oh ternyataaa….


Overall, novel ini aku rekomended banget buat kamu penyuka fantasi dan dunia petualang yang mengesankan dan berdebar-debar. Dan luar biasa menegangkan. Bisa dibaca untuk semua kalangan kok – aman.

R A T I N G 


No comments:

Post a Comment