Saturday, 11 March 2017

BOOK REVIEW | ALANG : Hidup tak pernah memberi bahu untuk bersandar

Judul Buku : ALANG
Penulis : Desi Puspitasari
Editor : Triana Rahmawati
Cover : Resoluzy Media
Penerbit : Mahaka Publishing (Imprint Republika Penerbit)
Jumlah halaman : iv + 235 hal
Cetakan : Pertama, Juni 2016
ISBN : 978-602-9474-09-1



Blurb :

Jalan seni memang terjal. Meski berbekal tekad yang kuat dan kerja keras, Alang masih terseok-seok untuk menggapai mimpi sebagai musisi. Bapaknya bukanlah tipe penuntut, tapi ia menginginkan anaknya memiliki cita-cita yang membuat hidupnya lebih sejahtera dibanding kehidupannya sekarang.

Bapaknya hanyalah seorang tukang becak dan Ibunya berjualan sayur di pasar pagi. Hobi dan cita-cita Alang dianggap Bapak sangat mahal dan tidak menjanjikan. Ada banyak kasus di kampunya yang memberi contoh bahwa pekerja dan penikmat seni hanyalah pekerjaan tak jelas. Seni tak hanya membuat mereka melarat karena tak bisa memberi penghasilan yang layak, seni bahkan dapat membuat mereka bermasa depan suram hingga generasi berikutnya.

Alang ingin manut, tetapi ia juga tak bisa mengalihkan pikirannya kepada selain menjadi seniman. Hanya ada dua pilihan; tinggal atau pergi untuk tak pernah kembali.

Kisah Alang akan membuka mata kita betapa untuk menjadi dewasa, adahal-hal yang harus kita putuskan dan tanggung resikonya seorang diri.




*** Selain ceritanya yang menginspiratif banget bagi pembaca, novel ini juga banyak bertebaran Quotes-quotes menarik dan nggak kalah inspiratif-nya bagi pembaca lohh.. Penasaran dengan quotes-quotes-nya?? Yukk langsung klik >


ALANG : Hidup tak pernah memberi bahu untuk bersandar

Ketahuilah, kepopuleran tanpa dasar ilmu yang kuat hanya akan menjadi omong kosong. (hal. 182)

Alang merupakan nama tokoh utama yang menjadi prioritas utama di dalam novel ini, dari segala aspek kehidupan dan perjuangannya untuk meraih apa yang diimpikannya, walaupun di tentang keras oleh Ayahnya sendiri. Berawal dari pelajaran Seni di sekolahnya membuat Alang menyukai Recorder dan musik. Alang adalah sosok yang pekerja keras, tidak malas, bahkan ia kerap membantu kedua orang tuanya dan bisa memenuhi kebutuhan dan keinginannya sendiri tanpa membebankan keluarganya sendiri.

Arif adalah teman dan juga sahabatnya Alang. Berbeda dengan Alang, Arif ini kebalikan dari Alang. Malas. Karena insiden di masa lalu yang melibatkan simbah (kakek) dan keluarganya, membuat Arif tidak mau berusaha dan merubah apa yang sudah melekat pada keluarga dan masa depannya.

Sedangkan April suka menulis puisi. Bernasib sama dengan Alang, sama-sama ditentang oleh orang tuanya karena kesukaannya terhadap seni. Keluarga mereka menganggap kalau seni itu tidak punya masa depan yang cerah alias tidak akan kaya. Satu yang membedakan keduanya, yaitu orang tua April kaya. Mia, teman perempuan Alang lainnya yang baru dikenalnya saat ada pertunjukan drama kelas yang membuat mereka mulai dekat dan saling kenal satu sama lain.

Keindahan dalam seni merupakan sebuah kebenaran. Selain sebagai profesi, seniman bisa diartikan sebagai sikap atau jalan hidup. Pilihan yang harus dilakoni secara total. (hal. 185)

Berkat Pak Gun, guru keseniannya saat SMP, kemampuan Alang bermain gitar semakin bagus, dan Alang setiap harinya selalu berlatih dirumah Pak Gun untuk meningkatkan kemahirannya bermain gitar. Mengetahui anaknya yang masih bermain gitar – yang menurut ayah Alang tidak punya masa depan – membuat Ayah Alang semakin kesal, di tambah lagi dengan alasan lain yang membuat hubungan kedua ayah dan anak itu semakin jauh. Hingga di suatu hari, Alang di terima di salah satu kampus Jakarta dengan beasiswa di bidang musik. Membuat sang Ayah semakin berang dan memberi pilihan kepada Alang.

Hidup di dunia nyata mengajarkan bahwa yang dibutuhkan dalam hidup ini sesungguhnya hanya duit! Dan duit tak bisa kau dapatkan dengan bergelut di bidang seni. Seni itu omong kosong. Seni itu tak bisa menghidupi, yang ada malah membuatmu mati lebih dini. (hal. 26)

Alang berangkat ke Jakarta berdua bersama Arif. Alang yakin bisa menempuh pendidikan musiknya dengan beasiswa yang diterimanya dan membiayai kehidupannya dengan cara bekerja sampingan menjadi sales. Awalnya semua berjalan sesuai dengan rencana Alang. Hingga pertemuannya kembali dengan April membuat Alang mengabaikan apa tujuannya ke Jakarta. Alang terlalu fokus dengan keadaan April tanpa perduli dengan keadaanya sendiri hingga Alang di berhentikan dari beasiswanya. Dan hidupnya bukan lagi tentang musik, tapi April dan perasaannya.

April sendiri memilih tidak melanjutkan lagi pendidikan kedokterannya tanpa sepengetahuan orangtuanya sendiri. April sering berkumpul bersama kelompok sastrawan, belajar membuat puisi. Bersama mereka membuat April lebih hidup dan bersemangat. Hingga saat kedua orangtuanya marah dan mencabut semua fasilitas yang di terimanya selama ini, membuat April berbeda dari April yang sebelumnya di kenal Alang. April menjadi lebih sering mengeluh tentang hidupnya.

Melihat kondisi April yang tidak terbiasa hidup susah, Alang dengan tangan terbuka membantu April dan selalu memberinya semangat, bahkan membantu April dalam bentuk materi, walaupun Alang sadar hidupnya tidak dalam yang baik-baik saja. Hingga puncaknya saat April tidak sanggup lagi dan memilih kembali pada orangtuanya dan meninggalkan mimpinya serta Alang.

Alang sadar, kalau selama ini ia telah sia-sia membantu dan menunggu April hingga Alanglah yang ditinggalkan begitu saja oleh April.

Apa yang akan dilakukan Alang setelah kepergian April? Tetap melanjutkan mimpinya seorang diri atau ia akan mencari pekerjaan lain di Jakarta untuk membiayai hidupnya?

Mimpi itu hanya untuk seorang pemenang, bukan pecundang. Pemenang itu artinya ia yang tidak mogul atau berhenti ditengah jalan – pada apa pun pilihannya. Pemenang itu juga tidak cengeng. Meski cita-cita dan cintanya kandas, ia akan segera bangkit pulih. (hal. 195)

Alang by Desi Puspitasari

Menjadi dewasa memang perihal berani mengambil keputusan dengan segala resikonya. (hal. 153)

Ini novel bener-bener jleb banget. Saya terasa disindir. Dan saya setuju dengan kisah Alang ini. Bahwa semakin berani kita mengambil keputusan dan menerima semua resiko ke depannya maka kita semakin dewasa dan paham arti sebuah kehidupan yang sebenarnya. Karena hidup tanpa pilihan itu bukan apa-apa (bukankah begitu?).

Diceritakan dari sudut pandang POV 3 dari tiap tokoh-tokohnya, hanya saja lebih difokuskan kepada sosok Alang. Membuat saya sebagai pembaca bisa memahami bagaimana kegalauan dan gundah-gulana yang dirasakan oleh Alang. Apalagi di saat ia harus memilih antara keluarga dan cita-citanya. Kisahnya mengalir dengan rapi, perlahan-lahan semua tanda tanya di benak saya saat membaca di awal-awal terjawab di bab-bab selanjutnya. Dengan alur maju mundur.

Kota Mediun

Alang bersetting di kota Mediun dan Jakarta. Kemungkinan penulis hanya ingin menfokuskan cerita pada kisahnya Alang saja, sehingga gambaran kota Mediun sendiri tidak digambarkan dengan jelas. Hanya kebiasaan-kebiasaan kecil saja yang sedikit di sebut di dalam novel Alang ini.

Yang paling membuat saya kesal adalah saat dimana April, Ayahnya Alang, dan Arif yang seakan menyerah dengan keadaan tanpa terlebih dahulu berusaha. *Uh, rasanya tuh pengin jitakin kepala mereka masing-masing biar sadar, sebelum mengeluh dan mengomentari tentang segala macam bentuk kehidupan. Bukannya berusaha dulu malah berkomentar tentang ini dan itu. Ngeselinkan? Untung saja Alang kuat imannya ☺.

Hidup dengan kesederhanaan memang terkadang membuat seseorang itu lebih gampang menyerah. Seperti di kehidupan nyata pada umumnya. Seperti yang di alami oleh Ayahnya Alang. Lebih menerima keadaan dan menerima mentah-mentah tentang pandangan orang-orang di sekitarnya tentang musik dan dunia seni. Tanpa mau mendengar dan menyelami terlebih dahulu keinginan anaknya. Di lain sisi juga ada ibunya April, yang selalu membanding-bandingkan anak-anaknya, dan memamerkan kemampuan dan keberhasilan anaknya kepada orang lain. Nah, kalau untuk sifatnya Ibu April ini saya rasa sampai sekarang masih ada, jangankan di cerita fiksi di kehidupan nyata juga ada yang seperti ini. 

Setiap anak pasti memiliki keinginan sendiri yang tak selalu sesuai dengan harapan orangtua. (hal. 138)

Setiap anak punya masa depannya masing-masing. (hal. 111)

Melihat sikap orang tua di dalam kisah Alang ini, menjadi pembelajaran juga pada orang tua di luar sana agar tidak memaksa keinginan dan menekan anak-anak mereka untuk menjadi apa yang orang tua inginkan. Karena ada kalanya keinginan anak dan orang tua itu bisa saja berbeda. dan jika kita malah menekan, anak-anak akan lebih memilih memberontak secara diam-diam.

Banyak banget yang bisa di petik dan dijadikan pedoman untuk hidup kita sehari-hari di novel ini. Karena novel ini tidak hanya sekadar menghibur pembaca, novel ini juga banyak memberi pemahaman-pemahaman tentang pilihan hidup, rasa tanggung jawab, betapa pentingnya pemahaman tentang literasi, bakat yang dimiliki seseorang, kerja keras, pendidikan dan juga cinta.

Apa pun pilihanmu, jika kau yakin benar-benar mencintai dan mau hidup di dalamnya, maka jadikanlah pegangan yang kuat. Keyakinan dan kemauan untuk bekerja keras itu akan menjawab semua pertanyaan. (hal. 185)

R A T I N G


8 comments:

  1. Replies
    1. Terima kasihh :)
      Btw, ini sangat sukanyapadaapa yaa?? Review atau bukunya??Aku harap sihh duan2-nya yaa :)

      Delete
  2. Replies
    1. Semoga segera bisa dibeli dan dibaca yaa :)
      Bacaannya menginspiratif bangett.

      *Terima kasihsudah berkunjung

      Delete
  3. Alang harus menghadapi beragam rintangan untuk impiannya tapi tetap kokoh dan berusaha, beda sama April yang baru terjun ke kesusahan sebentar eh malah pergi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa bener bangett..
      Ada maunya aja si April ini. Giliran susah aja deket2 Alang..

      btw, terimakasih atas kunjungannya Ribka ;)

      Delete