Friday, 23 December 2016

Book Review | My Better Half - Indah Hanaco

Judul Buku : My Better Half
Penulis : Indah Hanaco
Editor : Afrianty P. Pardede
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2014
Halaman : 304 hlm
ISBN : 978-602-02-5344-2


Sinopsis

"Dia memang bukan pelaku kriminal. Dia hanya seorang laki-laki menyebalkan yang tidak tahu caranya tersenyum. Bodohnya, aku selalu kesulitan untuk benar-benar marah padanya." - Kendra Elanith

"Dan dia adalah gadis ceroboh yang selalu meninggalkan ponselnya di sembarang tempat. Tapi dia selalu mampu menghadapiku lebih baik dibanding orang lain." - Maxim Fordel Arsjad

Mereka lebih sering membantah, sekaligus membangun pengertian. Kendra dan Maxim saling memahami meski tak fasih menuangkannya dalam kata. Keduanya mengelak dari hubungan lebih dari sekadar teman. Tapi Tuhan adalah sutradara maha gemilang. Dia menuliskan predestinasi yang tak bisa dibantah. Menyandera Maxim dan Kendra pada perasaan istimewa.

Mungkinkah mereka memilih jalan untuk bersama, menghabiskan sisa kefanaan berdua? Ataukah lebih suka menjauh meski saling menyakiti? Ada banyak perasaan terluka, ada banyak rasa ngilu yang harus dikecap. Jalan ke masa depan memang bukan jalan yang bebas hambatan.

Kilas balik My Better Half

Maxim Fordel Arsjad, adalah seorang pengusaha prewalker bermerek Buana Bayi. Tipe cowok menawan tapi enggan untuk menjadi pusat perhatian. Namun di suatu hari wajah dan profilnya muncul di majalah The Bechelor dengan judul 'cowok yang diidamkan'. Dan mulai saat itu hidupnya yang tenang dan damai mulai terusik, dan gara-gara majalah tersebut sebuah acara televisi Dating with Celebrity yang bekerja sama dengan The Matchmaker yang dipimpin oleh Helen Mohini yang di akui kakaknya Aurora sebagai teman kuliahnya dulu, memaksanya untuk bisa mengikuti acara tersebut. 

Kendra Elanith, bekerja di bawah pimpinan Helen Mohini di The Matchmaker sejak tamat kuliah. Sejak The Matchmaker bekerja sama dengan sebuah stasiun televisi dengan judul Dating With Celebrity dimana para peserta wanita yang terpilih dan memenuhi semua kriteria akan berkesempatan untuk berkencan dengan para laki-laki yang dianggap selebriti. Dan Kendra mendapat tugas sebagai penyeleksi 10 peserta wanita yang nantinya akan berkencan dengan para selebriti yang terpilih.

Hingga suatu hari Kendra mendapat tugas dari Helen untuk menemui selebriti yang akan menjadi calon untuk acara Dating With Celebrity yang bernama Maxim Fordel Arsjad, sekaligus untuk membicarakan prosedur tentang acara tersebut. Dan sialnya bagi Kendra, karena Helen membatalkan janjinya sepihak, dan meminta Kendra untuk menggantikan tugasnya untuk menemui Maxim. Dan Helen dengan seenaknya saja mengatur pengunduran waktu. Kendra yang hanya pegawai biasa hanya bisa menurut dan tidak bisa menolak semua perintah Helen. Kendra hanya bisa pasrah, belum lagi dengan Maxim yang ternyata menolak untuk ikut acara tersebut.

Bagi Maxim acara seperti itu tidak penting untuk diikuti, hanya buang-buang waktu saja. Belum lagi pekerjaannya lebih penting dari pada acara kencan yang tidak jelas itu. Kendra yang mendengar semua itu tentu saja dibuat kesal, belum lagi Helen yang tidak menerima alasan apapun kecuali Maxim mau mengikuti acara tersebut. 

Kegigihan Kendra untuk membujuk Maxim tidak membuahkan hasil, hingga suatu hari dengan sikap pantang menyerahnya Kendra, ia berhasil untuk mengikutsertakan Maxim ke acara kencan tersebut dan Maxim dengan setengah hati menyetujuinya dan ia bertekad akan membalas semua kekesalan yang dirasakan olehnya kepada Kendra. Dan selama proses berlangsungnya acara Dating with Celebrity ada saja tingkah Maxim yang membuat Kendra Kesal setengah mati.

Namun secara perlahan tanpa mereka sadari perdebatan dan perselisihan yang terjadi di antara mereka membentuk sebuah rasa yang tak ingin diakui keduanya. Sejauh apapun mereka menyangkalnya rasa itu seakan menarik mereka berdua untuk terus mendekat.

Bagaimana mereka akan menyikapi perasaan yang timbul tanpa sepengetahuan mereka berdua? Di saat proses acara kencan yang dijalani Maxim berjalan lancar, tiba-tiba saja Maxim mengakui perasaannya. Dan Kendra menganggap perasaan yang diucapkan oleh Maxim hanya sekadar perasaan kasihan karena masa lalu Kendra. Bagaimana dengan kelanjutan kisah mereka berdua?

"Berhenti bersikap kekanakan. Kalau ada salah paham, jalan keluarnya itu disebut dialog. Bukannya menyimpan perasaan curiga dan mengambil kesimpulan sendiri." (hlm. 276)

***

Seperti biasa, membaca setiap karyanya kak Indah selalu membuatku keasyikan dan tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan setiap lembaran kisahnya. Maxim yang menawan namun mempunyai sifat seperti anak kecil yang menggemaskan dan Kendra yang cuek dan juga tidak peka.

Di ceritakan dari sudut pandang orang ketiga Maxim dan Kendra, tapi lebh dominan sudut pandang dari Kendra. Dengan konflik yang ringan.

Ada kosakata yang menarik saat membaca novel ini, yaitu PLTC. Ada yang bisa menebak apa kepanjangan dari PLTC?. Dan juga phobianya Maxim yang terlalu dilebih-lebihkan, membuat saya sangat terhibur dengan kelakuannya Maxim. Tidak terbayang sama sekali, jika ada sosok nyata yang mempunyai kelakuan seperti Maxim. Hehehe

Jika kita mencintai/menyukai seseorang, apa lebih baik kita mengakuinya saja atau hanya menyimpannya seorang diri?. Bagaimana menurut kalian? 


RATING


"Tertawa tidak berarti kamu tidak sedih lagi. Itu caramu menyembuhkan luka. Karena yang sudah terjadi tidak bisa diubah sama sekali." (hlm. 201)

No comments:

Post a Comment