Monday, 28 November 2016

Book Review | In A Blue Moon - Ilana Tan


In a Blue Moon
Penulis: Ilana Tan
Ilustrasi dan desain cover: Kitty Felicia Ramadhani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
ISBN: 978-602-03-1462-4
Cetakan pertama, 2015
320 halaman

Book Sinopsis : 

“Apakah kau masih membenciku?”

“Aku heran kau merasa perlu bertanya.”

Lucas Ford pertama kali bertemu dengan Sophie Wilson di bulan Desember pada tahun terakhir SMA-nya. Gadis itu membencinya. Lucas kembali bertemu dengan Sophie di bulan Desember sepuluh tahun kemudian di kota New York. Gadis itu masih membencinya. Masalah utamanya bukan itu—oh, bukan!—melainkan kenyataan bahwa gadis yang membencinya itu kini ditetapkan sebagai tunangan Lucas oleh kakeknya yang suka ikut campur.

Lucas mendekati Sophie bukan karena perintah kakeknya. Ia mendekati Sophie karena ingin mengubah pendapat Sophie tentang dirinya. Juga karena ia ingin Sophie menyukainya sebesar ia menyukai gadis itu. Dan, kadang-kadang—ini sangat jarang terjadi, tentu saja—kakeknya bisa mengambil keputusan yang sangat tepat.


Book Review :

In A Blue Moon, menceritakan tentang sepasang anak manusia dengan profesi mereka masing-masing dengan perasaan bersalah dan perasaan benci di diri mereka masing-masing. Lucas Ford seorang koki terkenal sekaligus pemilik restoran Ramses di pertemukan kembali dengan perasaan bersalahnya terhadap Sophia Wilson yang kini berprofesi sebagai pemilik toko kue yang menyediakan Tarlet terenak di New York dan juga sangat-sangat membencinya itu

“Apakah kau masih membenciku?” (hlm. 55)

Setelah sepuluh tahun berlalu, rasa bersalah itu kembali muncul kepermukaan. Di pertemukan kembali dengan Sophia Wilson tanpa di sengaja membuat Lucas sangat terkejut dan tidak menyangka, kalau ia akan bertemu dengan Spohia di New York. Kakeknya, Gordon Ford ternyata berteman baik dengan kakeknya Sophia. Dan itu semua seperti belum cukup mengejutkan bagi Lucas. Tiba-tiba kakeknya mengklaim bahwa Sophia adalah tunangannya. 

Teman satu sekolahnya. Bukan. Bahkan Lucas dan Sophia tidak bisa dikatakan berteman. Mereka memang saling kenal, tapi bukan berarti mereka berteman. Akibat perbuatannya dulu, Lucas paham seberapa besar rasa benci yang di tanam untuknya oleh Sophia. Semenjak pertemuan yang tak terduga itu, Lucas bertekad akan meminta maaf kepada Sophia, walaupun ia yakin Sophia tidak akan semudah itu memaafkannya. 

"Kau melakukannya untuk membuat perasaanmu lebih baik. Mungkin untuk mengurangi perasaan bersalahmu."
"Tapi aku sendiri tidak merasa lebih baik setelah mendegar permintaan maafmu." (hlm. 58)

Walaupun mulut berbicara IYA, tapi hati tetap meninggalkan bekas luka yang dalam. Bahkan Lucas tidak menerima kata Ya dari Sophia. Walaupun demikian Lucas tidak menyerah untuk meyakinkan Sophia kalau ia benar-benar tulus dan menyesal akan perbuatannya dulu. Karena dulu Lucas hanyalah seorang remaja bodoh yang hanya ingin menyelamatkan harga diri seorang laki-laki di depan teman-temannya.

Hingga suatu hari, kakek Lucas memintanya untuk menjemput Sophia, dan kakeknya akan menjemput kakeknya Sophia karena kakeknya Lucas ingin makan bersama dengan mereka. Tapi sesampainya di restoran, batang hidung kakeknya malah tidak kelihatan. Setelah menelpom ternyata kakek mereka bertemu dengan teman mereka dan memilih makan bersama dan meninggalkan mereka berdua dengan suasana yang tentu saja Sophia masih membencinya. 

Di lain kesempatan mereka bertemu kembali, Lucas dengan keraguannya yang masih kentara mengusulkan agar ia dan Sophia berpura-pura untuk menjalani pertunangan sepihak dari kakeknya ini, dengan tujuan supaya kakeknya tidak mencampuri lagi semua hal seperti mempertemukan mereka dengan alasan-alasan drama versi kakeknya itu. Apalagi dengan sifat keras kepala kakeknya dan aksi dramanya tersebut. Awalnya Sophia tidak setuju, dan tidak perduli tapi setelah dipikir-pikir akhirnya Sophia menyetujuinya. Dan secara beriringnya waktu hubungan mereka pun membaik. Dan Sophia pun bisa melihat perubahan dari diri Lucas di zaman SMA-nya dulu dengan sekarang sangatlah berbeda. Seperti yang di yakinkan oleh Lucas kepada dirinya kalau Lucas yang dulu dan sekarang berbeda. Dan perbedaan itu pun menimbulkan sesuatu yang lain di hati mereka masing-masing.
Bagaimana kelanjutan status pertunangan mereka? Apakah berlanjut atau malah berhenti?

"Apakah kau tahu, hanya ada garis tipis yang memisahkan perasaan benci dan cinta?" (hlm. 100)

Cerita yang manis yang akan membuat siapapun yang membaca pasti tidak akan tega untuk meninggalkannya begitu saja. Mungkin ceritanya biasa, juga pasaran. Dari perasaan membenci menjadi perasaan mencintai. Hal yang sudah sangat wajar untuk dijadikan sebuah cerita. Namun, hal yang biasa inilah yang menjadi daya tarik dari seorang penulis best seller  yang satu ini. Cara Ilana Tan menceritakan dan menggambarkan setiap adegan-adegan di dalam novelnya inilah yang selalu ditunggu-tunggu oleh pembaca setianya. Seperti pada novel-novel sebelumnya, ada daya tarik tersendiri bagi para pembaca. Begitupun dengan In A Blue Moon ini. Interaksi antara tokoh utamanya yang manis, membuat saya yakin pasti pembaca akan dibawa hanyut dalam bacaan novel ini. Apalagi dengan sikap seorang Lucas yang menurut saya sangat lelaki idaman banget. Kegigihannya meminta maaf serta pengakuan masa lalunya yang tidak mudah tapi tetap dilakukan, membuat Lucas menerima jawaban dari Sophia yang sangat menohok dirinya. Dari sini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa memaafkan seseorang itu tidak semudah seperti meminta maaf. Mungkin kata maaf bisa kita dapatkan begitu mudah, tapi bekas luka yang kita torehkan tidak akan hilang seperti maaf yang kita terima. Jadi berpikirlah ke depan, sebelum kamu melakukan kesalahnan.

Selain ceritanya yang manis, cover dan warnanya juga sangat mendukung isi cerita ini. Dengan warna biru yang manis, di lengkapi dengan sebuah restoran *sepertinya, suasana restoran yang ramai seperti menggambarkan suasana Ramses. Sedikit yang membuat saya bingung, apa keterkaitan antara judul dan isi ceritanya. Memang sih Sophia pernah memesan minuman Blue Moon dua kali, dan itu belum menjawab rasa penasaran saya. Mungkinkah ada dari pembaca lain yang mengetahuinya? *saya berharap ada yang mengetahnya dan bersedia memberitahu saya.

Diceritakan dari sudut pandang orang ketiga antara Lucas dan Sophia secara bergantian membuat cerita ini mengalir apa adanya. Tidak bertele-tele. Dan membuat pembaca khususnya saya bisa memahami perasaan mereka satu sama lain, dan karena hal inilah terkadang membuat saya gemas sendiri dengan tingkah mereka berdua yang manis, terutama Lucas.

Untuk konfliknya tidak mampu membuat saya greget. Kehadiran Miranda dan Andrian bisa di katakan sebagai pelengkap atau pewarna untuk novel ini. Agak sedikit kecewa sebenarnya, coba saja penulis membuat konflik yang membuat pembaca hanyut dalam emosi yang terkait dengan orang ketiga, pasti novel ini lebih hidup lagi dan membuat perasaan pembaca teraduk-aduk. Walaupun konfliknya kurang, novel ini tetap masih bisa dinikmati dengan cerita manis dari pasangan Lucas dan Sophia tentunya, dan saya yakin konflik yang sebelumnya kurang lengkap bisa terlupakan begitu saja karena penulis mampu membuat pembaca hanyut dalam kisah Lucas dan Sophia.

Jika seseorang menyelesaikan membaca novel ini, kemudian menobatkan Lucas Ford sebagai karakter favoritnya, menurut saya itu hal yang wajar. Karena saya pun demikian. Siapa sih yang tidak menyukai karakter Lucas Ford disini. Seorang koki terkenal, punya mata biru gelap yang menghanyutkan, sikapnya yang terus terang, kelakuan manisnya terhadap Sophia, siapapun pasti akan terkapar dilantai. Hanya satu yang membuat saya kesal, sikap santainya dan tidak perduli terhadap hubungannya dengan Miranda. Jadi wajar saja kalau Miranda sang model merasa dirinya orang yang disukai oleh Lucas dan sangat banyak berharap kalau hubungan mereka ada peningkatan. Istilah sekarang sih tingkat 'Baper'-nya yang sangat tinggi. Begitupun dengan Sophia dan hubungan masa lalunya dengan Andrian. Kemudahan yang diberikan oleh Sophia terhadap hubungannya dengan Andrian membuat Andrian yakin kalau Sophia masih menyukai dan mencintainya. Padahal sebaliknya. Oh Astaga, ada apa dengan Miranda dengan Andrian? Mereka menganggap semuanya sesuai dengan isi kepala mereka masing-masing. Tidak mau melihat sesuai dengan kenyataannya. So, disini saya bisa mengambil kesimpulan bahwa jangan terlalu hanyut dengan perasaan, ketika sedang berhubungan dengan lawan jenis, apalagi dengan perhatian yang diberikan. Bukankah untuk hubungan sebuah pertemanan juga ada terselip perhatian walaupun itu kecil sekalipun.

Oiyaa, jangan lupakan kakak-kakaknya Sophia, Tyler dan Spencer dengan sikap protektif mereka masing-masing membuat mereka jadi lebih manis. Sikap protektif mereka pun masih dalam tahapan wajar untuk melindungi adik mereka, tidak berlebihan. Dari kedua kakak Sophia, saya lebih menyukai Spencer. Mungkin karena interaksi antara Spencer lebih banyak dibanding Tyler, jadinya kedekatan antara Spencer dan Sophia lebih terlihat. Dan masih ada lagi tokoh lainnya, seperti Nicholas Lin sahabatnya Sophia. Jared

Ada beberapa adegan favorit saya disini, diantaranya ketika Miranda bertanya kepada Lucas apakah Lucas mencintai Sophia. Lucas dengan sikap santainya menjawab......  (?)
*Penasarankan? Apa yang di katakan Lucas pada Miranda. (uhh, saya sampai berangan-angan gara-gara adegan ini).

Bagi kalian yang sedang mencari bacaan ringan dengan cerita yang manis semanis gula dan madu, saya rekomendasikan novel In A Blue Moon ini untuk jadi bahan bacaan kalian selanjutnya. Dan tentu saja novel ini bisa dinikmati oleh semua kalangan termasuk para remaja.

Saya memberi 3.5 senyuman semangat deh untuk pasangan manis Lucas dan Sophia :)


"Aku bersedia melakukan apapun agar kau tetap berada disisiku, bersamaku, selama kau menginginkan hal yang sama."  Lucas

2 comments: