Saturday, 29 October 2016

Book Review | Perfect Pain - Anggun Prameswari


Judul Buku : Perfect Pain
Penulis : Anggun Prameswari
Penerbit : GagasMedia
Editor : Jia Effendie
Penyelaras Aksara : Tesara Rafiantika
Penata Letak : Gita Ramayudha
Desainer Sampul : Levina Lesmana
Jumlah Halaman : viii + 316 hlm
Cetakan Pertama, 2015
ISBN :979-780-840-8

Baca juga ya.. [Book Quotes | Perfect Pain - Anggun Prameswari]

Book Sinopsis :

Sayang, menurutmu apa itu cinta?
Mungkin beragam jawab akan kau dapati.
Bisa jadi itu tentang laki-laki yang melindungi.
Atau malah tentang bekas luka
dalam hati-hati yang berani mencintai.

Maukah kau menyimak, Sayang?
Kuceritakan kepadamu perihal luka-luka
yang mudah tersembuhkan.
Namun, kau akan jumpai pula luka
yang selamanya terpatri.
Menajdi pengingat bahwa dalam mencintai,
juga ada melukai.

Jika bahagia yang kau cari, kau perlu tahu.
Sudahkan kau mencintai dirimu sendiri,
sebelum melabuhkan hati?
Memaafkan tak pernah mudah, sayang.
Karena sejatinya cinta tidak menyakiti.

Book Review :


Perfect Pain menceritakan tentang kekerasan atau yang biasa kita kenal dengan sebutan KDRT yang terjadi dalam sebuah biduk rumah tangga, dimana pihak perempuan yang sering menjadi sasaran empuk sang suami. Walaupun kekerasan yang di alami pihak perempuan sudah sering terjadi, tapi ntah karena rasa cintanya terhadap sang suami begitu besar membuat seorang istri terkadang melupakan kekerasan tersebut dan menganggap hal itu biasa dan tidak pernah terjadi atau mungkin karena sang suami sedang lelah dengan pekerjaannya, jadi wajar-wajar saja (?). Hal itulah yang di alami oleh Bidari atau yang biasa di sapa dengan panggilan Bi, seorang istri sekaligus seorang ibu dan juga tokoh utama dalam novel ini yang sering menerima perlakuan buruk dari suaminya sendiri.

“Bagi ibu manapun, buah hati adalah seluruh isi semestanya. Ibu mana yang tidak syok dan panik mendapati jagoannya kini bersikap sok jago.”

Suatu hari Bi mendapat panggilan mendadak dari Miss Elena selaku wali kelas anaknya Karel dan meminta Bi untuk segera ke sekolah terkait dengan anak semata wayangnya itu. Sesampainya di sekolah Bi mendapat kabar ternyata Karel terlibat perkelahian dengan temannya walaupun bukan Karel yang memulainya tapi kejadian itu membuat Bi ketakutan setengah mati dan tidak mempercayainya, karena Bi percaya kalau Karel itu anak baik, dan juga Karel paham seberapa besar rasa sakit yang diakibatkan oleh sebuah pukulan.


"Meja makan punya cerita"

Bagi sebuah keluarga, meja makan selalu punya cerita tentang keluarga yang bahagia, merekam kisah-kisah yang mengembangkan senyum dan haru. Begitu juga dengan meja makan yang ada di rumahnya Bi. Hanya saja meja makannya mempunyai cerita yang gelap dan muram. Meja makan yang telah merekam semua kejadian seperti tamparan, pukulan, cekikan, dan siksaan-siksaan lainnya yang telah dilakukan suaminya, Bram tanpa belas kasihan sedikitpun. Itu semua seperti sudah menjadi santapan yang biasa bagi Bi, karena Bi bertahan demi kehidupan anaknya, Karel.

"Bagiku, Karel adalah segala-galanya. Karel adalah tempatku  berpegangan di tengah dunia yang terus berguncang." (hlm. 1)

Karel adalah segala-galanya bagi Bi. Karel hidupnya, pusat hidup Bi. Karena Karel lah Bi bertahan, walaupun Bi kerap kali mendapat kekerasan fisik maupun mental dari suaminya sendiri. Karena Bi yakin, Bram melakukan kekerasan terhadapnya karena kelelahan dari pekerjaannya saja. Apalagi Bram bekerja di bidang properti dimana ia setiap harinya akan bertemu dengan orang-orang yang berbeda, makanya Bi selalu memaklumi semua siksaan itu. Terkadang setelah pukulan dan siksaan yang di terima oleh Bi, Bram akan meminta maaf, maaf dan maaf, selalu seperti itu.


"Karena menikah itu untuk bahagia. Dua orang yang saling cinta, pasti akhirnya akan menikah. Dengan begitu, mereka akan lebih bahagia." (hlm. 43)

Hingga suatu hari, Bi mendapat telepon dari Miss Elena sebagai wali kelasnya Karel. Menanyakan tentang keberadaan Karel apakah sudah pulang ke rumah apa belum karena Karel tidak mengikuti ekskul di sekolah. Sadar terjadi sesuatu dengan anaknya, Bi segera ke sekolah menjumpai Miss Elena menanyakan apa yang terjadi. Miss Elena pun menceritakan kemungkinan hilangnya Karel ada kaitannya dengan cerita Miss Elena tentang arti sebuah pernikahan yang sebenarnya dan dilanjutkan dengan cerita tentang pacarnya yang seorang pengacara, Sindhu. Dari situ Karel menanyakan semua hal, seperti apa itu pengacara, pekerjaan yang seperti apa yang dilakukan oleh seorang pengacara.

Dan benar saja, Karel menemui Sindhu di kantornya, dengan tujuan agar Sindhu mau membantu ibunya dari pukulan sang ayah. Apalagi melihat kedekatan Karel dan sikapnya dengan Sindhu membuat Bi khawatir, kalau Karel sudah menceritakan kondisinya. Sindhu pun semakin gencar membujuk Bi supaya mau menceritakan kejadian yang sebenarnya terkait rumah tangga Bi dengan Bram. Awalnya Bi memang menolak, dengan menganggap bahwa apa yang terjadi di dalam rumah tangganya adalah hal yang biasa terjadi. Hingga suatu hari penganiayaan dan siksaan yang di terima Bi melibatkan anaknya Karel, membuatnya berubah pikiran dan menceritakan semua kejadian yang telah dilakukan Bram terhadap dirinya.

Apa yang akan dilakukan Sindhu untuk membebaskan Bi dari Bram? Apakah Bi akan terbebas selamanya dari KDRT yang dialaminya bersama Bram? Bagaimana dengan Karel? Bagaimana dengan kelanjutan hidup Bi setelahnya? Apakah Bi akan tetap bertahan dengan Bram dan rasa cintanya terhadap Bram atau memilih berpisah dengan Bram?

***
Perfect Pain menceritakan tentang kisah seorang istri yang mendapatkan perlakuan keras dari sang suami. Kisah yang miris yang juga kita dapatkan di beberapa tayangan berita dengan kisah yang serupa. Bagaimana seorang istri diperlakukan layaknya seperti pembantu yang hanya melayani tuannya. Melupakan begitu saja janji-janji sebelum pernikahan yang sudah diucapkan di depan banyak orang, termasuk di depan mertuanya sendiri ketika meminta anak gadis mereka untuk di jadikan pendamping hidupnya yang akan di jaga, dilindungi, dan di sayangi dengan penuh kasih sayang yang melimpah. Tapi seiring berjalannya waktu itu semua dilupakan begitu saja, ntah apa yang menyebabkan si suami berubah begitu drastis. Seperti itulah yang di alami oleh Bi dengan perubahan sikap Bram. Berbeda sekali saat mereka masih menjalani hubungan sebelum menikah.

Kisah yang sangat miris memang. Rasanya tidak bisa di bayangkan bagaimana perasaan seorang istri jika diperlakukan seperti itu. Walaupun banyak di luar sana (di kehidupan nyata) juga mengalami hal yang serupa. Sosok yang awalnya sangat manis dan penuh perhatian, belum tentu ke depannya akan bersikap baik, pasti ada perubahan-perubahan kecil secara perlahan mengubah sosok yang kita kenal menjadi sosok yang tidak kita kenal sama sekali. Terkadang saya sendiri harus percaya dengan  kata-kata tentang 'carilah suami dengan bibit - bebet - bobot yang meyakinkan', tidak hanya sekadar cinta yang di andalkan untuk sebuah pernikahan. Karena setelah menikah bukan lagi tentang cinta-cintaan yang dibicarakan tapi rencana masa depan untuk keluarga kecil yang akan di bangun secara perlahan dengan saling kerja sama antara suami dan istri.

Dari cover-nya saja sudah terlihat bagaimana rapuhnya bunga yang tersimpan di dalam sebuah vas yang berdiri tegap yang melindungi apa yang ada di dalamnya. Seperti sosok Bi yang terlihat kuat dan tegar di luar. Tanpa memperlihatkan kondisi yang sebenarnya. Bi menyimpan semuanya sendiri. Walaupun perlakuan yang ia dapatkan bisa meremukkan semua yang ada pada dirinya dalam sekejap.


Alur ceritanya yang rapi, tidak ada alur yang dipaksa ,mengalir apa adanya dari awal hingga akhir cerita. Penulis seperti sedang ingin menyampaikan 'biarkan waktu yang menjawab'. Kehidupam masa lalu Bi dengan keluarganya juga dikupas secara perlahan-lahan hingga semua tanda tanya yang muncul di pikiran saya perlahan terjawab sudah. Roman antara Bi dan Sindhu pun menjadi pemanis di antara gelap dan sakitnya kehidupan Bi. Kisah roman yang pas tidak berlebihan. Untuk adegan favorite-nya saya suka interaksi antara Bi, Karel dan Sindhu ketika sedang lomba makan Ice Cream. Di adegan itu benar-benar so sweet banget. Penasaran? Baca Perfect Pain.

Perfect Pain diceritakan dari sudut pandang orang pertama yaitu Bi. Membuat saya memahami bagaimana perasaan Bi menjalani pernikahannya dengan Bram. Sangat menyesakkan memang. Seorang istri yang diperlakukan kasar oleh suaminya sendiri. Apalagi dengan sosok Bram sebelum mereka menikah dengan setelah mereka menikah sangatlah berbeda. Di satu sisi Bi ingin mengakhiri pernikahannya dan pergi dari rumah yang ditinggalinya bersama Bram dan membawa serta Karel bersamanya, hanya saja seperti ada yang menahan dalam diri Bi untuk tetap mempertahankan pernikahannya dan mensugestikan dirinya bahwa perlakuan Bram hanyalah luapan emosi sesaat karena kelelahan dengan perkejaannya. Namun yang membuat saya bertanya-tanya adalah sudut pandang dari Bram yang tidak diceritakan. Membuat saya menerka-nerka apa yang menyebabkan Bram berubah setelah menikah? Apa hanya karena kelelahan dan stres dari pekerjaanya saja? Saya rasa itu tidak mungkin, pasti ada pemicunya. Jika sudut pandang Bram juga diceritakan saya rasa pembaca pasti tidak akan menyalahkan sikap keras Bram, atau mungkin disinilah daya tarik cerita ini yang hanya menceritakan dari sudut pandang seorang perempuan yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Sepertinya penulis memang ingin mengenalkan kita dengan dunia seorang perempuan yang mengalami kekerasan dalam berumah tangga. 

Karakter favorit saya tentu saja Karel dan si pengacara, Sindhu. Karel yang kuat yang menjadi penyemangat hidup sang ibu bahkan Karel lah yang memaksa Bi untuk pergi jauh dari ayahnya sendiri demi melindungi sang ibu, Karel juga lah yang mengalihkan perhatian sang ayah dari pukulan yang akan menyakiti ibunya, seorang anak yang masih berusia 10 tahun berani untuk menemui seorang pengacara demi menyelamatkan ibunya tanpa takut tersesat, seorang anak yang dipaksa dewasa sebelum waktunya, perhatian dan kasih sayangnya kepada sang ibu benar-benar luar biasa. Sedangkan Sindhu sendiri, alasannya yang ingin menolong Bi karena ia seperti sedang bercermin pada diri Karel yang mengingatkannya pada kehidupannya dulu bersama sang ibu. Kejadian yang menimpa Karel dan Bi mengingatkannya pada masa kelamnya dulu, hanya saja Karel lebih kuat dan niatnya yang sangat ingin melindungi ibunya sangat berbeda dengan dirinya dulu yang tidak bisa berbuat apa-apa, oleh karena itu Sindhu pun bertekad akan mengabulkan semua keinginan Karel dan tidak ingin membuat semuanya sia-sia. 

Membaca Perfect Pain mengajarkan saya banyak hal tentang arti sebuah pernikahan. Seperti yang kita ketahui bahwasannya sebuah pernikahan bukanlah akhir dari sebuah cerita happy ending, tapi pernikahan adalah awal dari terbentuknya sebuah hubungan yang sesungguhnya. Dimana setiap pasangan tidak hanya mengumbar janji-janji setianya dan kasih sayangnya saja, tapi berkomitmen, saling menjaga satu sama lain, saling mempercayai pasangan masing-masing, mempertahankan komunikasi di antara keduanya dari awal hingga akhir dari sebuah pernikahan – akhir hayat. 

Secara keseluruhan buku ini sangat bangus dan menarik untuk dibaca oleh semua orang yang percaya kalau cinta itu tidak akan menyakiti dan banyak yang bisa di ambil hikmahnya dari semua kejadian yang sudah di alami oleh Bi dan Karel. Penasaran? Yukk baca novel Perfect Pain supaya rasa penasaran kalian terjawab semua.

Four Thumbs untuk Karel.



2 comments:

  1. Kisah KDRT ya, mba. Jadi pengen baca :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Kisahnya miris banget..
      Rekomen pakek banget, harus baca.. :)

      Delete