Thursday, 25 August 2016

Book Review | Coppelia - Novellina A.


Judul Buku : Coppelia
Penulis : Novellina A.
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Editor : Ruth Priscilia Angelina
Cover : Orkha Creative
Jumlah Halaman : 192 hlm
Tahun Terbit : 2015
ISBN : 978-602-03-1810-3
Harga : IDR. 33.750 (di BukaBuku.com)


Book Sinopsis :

Sejak kecil Oliver sudah jatuh cinta pada Nefertiti yang aneh. Namun, tetangga depan rumah sekaligus teman sekelasnya itu tiba-tiba menghilang. Oliver ditinggalkan sebelum membuat gadis itu mengingat namanya.

Sampai ke Jerman, Oliver mencari cinta pertamanya. Hingga akhirnya mereka bertemu. Tetapi, keadaan telah berubah. Nefertiti bukan lagi gadis yang dulu. Penari Balet itu terluka sangat dalam dan menganggap cinta sebagai rasa asing yang terlalu mewah untuk ia miliki.

Akankah cinta menemukan jalannya, atau Nefertiti tidak akan dapat meloloskan diri dari masa lalunya yang begitu dingin ... Sedingin kisah Boneka Coppelia yang begitu dicintai ibunya.

Book Review :


Novel Coppelia menceritakan tentang kisah hidup dari seorang gadis yang berprofesi sebagai penari Ballet, yang haus akan perhatian dari kedua orang tuanya terutama sang ibu. Ibu yang tidak pernah memberi perhatian dan kasih sayang layaknya seorang ibu pada umumnya. Ibu yang menurutnya tidak pernah mencintainya, karena kegagalan dari dirinya sendiri.

Nefertiti lahir dari seorang ayah yang berprofesi sebagai Arsitektur dan ibu yang berprofesi sebagai pelukis handal yang terkenal. Mempunyai orang tua yang berprofesi hebat sekalipun tidak membuat hidupnya lebih baik. Nefertiti di tuntun oleh orang tuanya untuk melihat bakat yang menurun dari kedua orang tuanya, apakah ia mempunyai bakat arsitek seperti sang ayah, atau melukis seperti sang ibu. Namun, bakat keduanya tidak menurun pada Nefertiti. Hingga suatu hari ketika sedang melihat sebuah pertunjukan Nefertiti mengatakan ia tertarik dan ingin mencoba untuk menjadi seorang penari. Orang tuanya pun mendaftarkannya ke tempat latihan penari Ballet, namun tarian Ballet yang dimiliknya pun biasa-biasa saja tidak ada peningkatan apapun. Membuat Ibunya kecewa hingga akhirnya ia menyerah.

"Sebuah perjalanan adalah tamasya untuk jiwa yang kehausan." (hlm. 23)

Hidup di Santorini selama tiga bulan membuatnya mengenal Angeliki yang berperan sebagai pemilik hostel tempat ia menginap sekaligus sahabat, kakak, serta sosok ibu baginya. Dan temannya Timetheos, yang merupakan anak dari Angeliki. Walaupun Theos tidak pernah berbicara dengannya sekalipun karena ia memiliki selective mutism. Tiba hari terakhirnya berada di Santorini, akhirnya Nefertiti memutuskan pulang ke Berlin untuk menemui sang kakak – Brian. Selama perjalanan ia ditemani oleh Theos, dan disitulah pertama kalinya Theos berbicara dengannya dan awal mula Nefertiti mau menceritakan kisah hidupnya kepada orang lain yang selama ini selalu ia sembunyikan dari orang-orang.

"Pergi ke sana terasa seperti memasuki dunia lain dimana kau adalah satu-satunya makhluk dengan kulit berbeda. Semua orang menatapmu saat kau datang. Yang mulanya mereka sibuk bicara atau bercanda, seketika mereka akan terdiam dan memandangmu heran." (hlm. 24)

Tinggal di daerah padat penduduk tidak membuat Nefertiti punya banyak teman. Ia hanya memiliki seorang sahabat yang bahkan tak pernah berbicara dengannya. Mia mempunyai arti penting dalam hidup seorang Nefertiti. Tujuan hidupnya adalah karena Mia. Ia mengikuti Ballet juga karena Mia. Di saat orang tua yang menurutnya tidak memahami dan tidak mempedulikan apa yang diinginkan Nefertiti, Mia selalu ada di saat ia membutuhkannya. Mia selalu mendengarkan keluh kesah hidupnya, walaupun Mia tidak pernah memberi tanggapan tapi seakan Tuhan memang menakdirkan mereka berdua untuk bersahabat dan saling memahami satu sama lain. Namun perlahan semua berubah saat tujuan hidupnya pergi meninggalkannya.

“Selamanya aku tidak akan pernah cukup baik untuk Ibu. Selama tak ada lukisan yang bisa membuatnya mewariskan nama keluarganya, aku tidak akan pernah ada dimatanya.

Semuanya sia-sia. Aku kehilangan arah. Aku harus kembali menjadi manusia. Mengenal dunia selain Ballet. Mulai berinteraksi dengan manusia lain.

Aku merindukan Ayah dan Mia.

Kenapa aku meninggalkan dua orang yang begitu menyayangiku hanya demi seseorang yang tidak pernah memikirkanku?” (hlm. 111)

Pertemuannya dengan Brian membuatnya bertemu kembali dengan teman sekelasnya semasa SMA-nya dulu, Oliver. Merekalah yang menuntunnya untuk menemui sang ibu yang tak pernah mau menemuinya, karena Nefertiti telah mengecewakannya berkali-kali karena kegagalannya sendiri. Namun harapan dan ketakutannya untuk bertemu dengan ibunya tidak terwujud. Nefertiti malah dipertemukan dengan lukisan ibunya yang tak pernah diselesaikannya sejak lama. karena ibunya menghilang sebelum bertemu dengannya.

Pencarian ibunya terus dilakukan. Ke tempat-tempat yang sering ibunya kunjungi. Ibunya hilang bagaikan ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Hingga Nefertiti menemukan sebuah laptop peninggalan ibunya, yang didalamnya terdapat sebuah foto keluarga yang berlatar bunga Lili. Dan dimulailah pencarian ibunya kembali. Namun dimana seharusnya ia menemukan sang ibu, tapi yang didapatkannya adalah sebuah rahasia masa lalu ke dua orang tuanya yang tak pernah ia ketahui bahkan tak ada satu orangpun yang mengetahuinya. Tapi satu hal yang pasti yang ia tahu tentang kebenaran dari Ibunya yang selama ini tidak pernah terpikirkan olehnya.

"Hidup seperti apa yang telah dilalui oleh Nefertiti? Ia telah berlari sangat jauh.seorang ibu yang ia kira tidak pernah mencintainya, seorang ayah yang mengirimnya ke psikiater, sahabatnya yang bisu dan telah mati.
Kini ia mencari ibunya yang telah pergi tanpa meninggalkandebu.
Apa yang kulakukan jika aku ini Nefertiti? Kemana lagi aku akan berlari?" 

Copellia dengan judul yang menurut saya sangat unik juga tampilan cover yang sangat cantik dan sederhana sangat mudah menarik perhatian saya karena penasaran dengan kisah di dalamnya.  Judul yang diambil dari sebuah nama tarian Ballet yang diciptakan oleh Arthur Saint Leon dan pertama kali ditampilkan di Parispada tahun 1870. Tentang kehidupan seorang gadis yang bernama Nefertiti yang mengharapkan kehidupan yang lebih baik dan dicintai oleh seseorang dengan tulus.

Di ceritakan dari sudut pandang orang pertama dari tokoh utamanya – Nefertiti dan Oliver secara bergantian. Dari sisi Nefertiti yang penuh dengan penderitaan dan kesedihan hidupnya, dan Oliver dengan sikap kedewasaannya yang terasa lepas serasa tidak ada beban dalam menjalani hidupnya. Coppelia diceritakan dengan alur maju mundur. Plotnya rapi dan sangat menarik untuk diikuti karena setiap halamannya saya selalu dibuat penasaran dengan kisah Nefertiti.

Begitu banyak konflik-konflik yang mengejutkan di dalam novel ini. dimulai dari asal-usul Theos, masa lalu Brian dan ibunya – Ayumi, masa lalu Oliver juga masa lalu ibu dan ayahnya Nefertiti yang sangat mengejutkan bagi saya dan tak terduga sebelumnya. Semuanya terasa nyata. Karena setiap manusia pasti memiliki cerita dan konflik masing-masing dalam hidupnya. Terungkapnya masa lalu dan konflik utama di ceritakan secara perlahan-lahan hingga tidak terasa sudah sampai di bagian akhir cerita.

Saya paling terkesan dengan karakter Nefertiti yang kuat. Keinginan Nefertiti yang begitu besar untuk membuktikan kepada ibunya kalau ia bisa dibanggakan sebagai anak dari seorang pelukis terkenal. Dan rasa kekecewaan terhadap ibunya membuat ia menjadi pribadi yang lebih tertutup. Saya dapat memahami kedekatannya dengan Mia karena ia ingin ada orang yang memahami keinginannya terhadap orang-orang yang dicintainya, ia ingin didengar, ia ingin di selamatkan bukan di kekang atau di jauhi oleh orang-orang terdekatnya. Semuanya tersampaikan secara perlahan perasaan Nefertiti hingga membuat saya turut berurai air mata.

Kadang orang tua lebih memaksa kehendaknya terdapa si anak. Tidak melihat dari sisi anaknya yang mampu atau tidak untuk menjalaninya. Ketika sang anak sudah mencoba dan gagal, orang tua malah megacuhkan dan langsung kecewa. Mereka tidak sadar bahwa mereka memberi tekanan yang ditanggung si anak lebih besar karena  rasa kecewa akan dirinya sendiri yang telah gagal, padahal sudah berlatih keras. Kecewa terhadap orang yang berharap lebih kepada sang anak. Seharusnya anak yang gagal di dukung, di tuntun untuk menjadi lebih baik, di beri semangat agar mereka mau bangkit dari kegagalan. Semua orang bisa gagal. Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya kegagalan. Hidup itu tidak sempurna. Hidup itu tidak hanya melulu keberhasilan semata. Namun saya juga tidak bisa menyalahkan ibu Nefertiti, melihat masa lalunya yang terungkap di akhir cerita membuat saya memahami karakter ibu Nefertiti, kenapa ia menjadi seperti itu kepada Nefertiti.

Cerita yang berlatar di Yunani, Jakarta, dan Jerman. Penggambaran tempatnya juga sangat jelas dan detail. Terutama tempat-tempat pelatihan Balet, juga studio ibunya Nefertiti membuat saya serasa sedang berada di sana.

Coppelia tidak hanya sekadar menyajikan sebuah cerita imajinasi belaka, tapi sebuah fakta dari kehidupan tentang kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya. Saya percaya bahwa tidak ada di dunia ini seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya. Tidak semua seorang ibu itu bisa menunjukkan rasa sayang dan juga cintanya itu melalui ungkapan, ada juga yang mengungkapkannya dari sebuah tindakan hingga sang anak tidak menyadarinya dan berpikir malah sebaliknya. Coppelia benar-benar menyoroti hubungan antara anak dan ibu dengan tepat dan apik.

Secara keselruhan novel Coppelia ini memberi rasa yang berbeda untuk lini metropop. Bagi kalian yang sangat menyukai sebuah cerita yang penuh dengan msiteri juga tentang seorang anak yang haus akan kasih sayang dari sosok seorang ibu, saya rekomendasikan novel ini untuk kalian baca selanjutnya..

Untuk bintang saya beri 4 dari 5 bintang.


No comments:

Post a Comment