Sunday, 15 May 2016

Book Review | Le Mariage : You Had Me At Hello by Indah Hanaco

Le Mariage
Judul : You Had Me At Hello
Penulis : Indah Hanaco
Editor : Afrianty P. Pardede
Penerbit : Elex Media Komputindo
Tahun Terbit : 2015
Cetakan Ke : 2
Jumlah Halaman : 354 hlm
ISBN : 978-602-02-7005-0
Harga Buku : IDR. 63.800 (di Bukupedia.com)

Rating : 4 of 5

Buntelan #BacaBareng dari Penulis yang di koordinir oleh kak Rizky.


Book Sinopsis :

Inanna mungkin masih terlalu muda untuk membuka pintu yang membawanya pada pernikahan. Namun berbagai kecerobohan membuat gadis itu tidak punya pilihan.
Inanna memilih menghabiskan sisa hidupnya bersama Alistair.

Cinta berhadir begitu dia menantang mata sewarna biru e situ. Harapan dilambungkan ke langit, suatu saat nanti inanna bisa memiliki hati si pemilik tatapan penghitung pori-pori itu.
Bukankah mereka terikat sumpah di depan Tuhan?

Tapi apa jadinya saat Inanna tahu kalau Alistair Cuma menganggapnya wujud kepingan masa lalu?
Percayalah, cinta takkan pernah semenyakitkan itu.

--------------------

Book Review

Inanna Grace. Bukan sosok anak perempuan idaman para orang tua. Mempunyai sifat keras kepala, suka membantah, sering melanggar aturan dari papa-nya, dan sering kesulitan mengendalikan diri jika sudah berhubungan dengan sepatu. Penyuka sepak bola. Tapi di balik sifat bengalnya itu, Ina ahli dalam masak-memasak (lauk-pauk) di dapur, dan Zora dan papanya merupakan penggemar terbesar hasil olahan masakannya. Kebiasaannya kalau sedang cemas Ina akan cegukan tanpa mengenal tempat dan waktu. Menurut Ina, Alistair itu punya tatapan yang memiliki penghitung jumlah pori-pori ketika sedang bertatapan dengannya.

Alistair Valerius Damanik. Sosok laki-laki tampan yang berusia 32 tahun, memiliki warna mata sebiru es. Setiap memandang Ina selalu dengan tatapan serius seakan ia sedang menghitung jumlah pori-pori yang ada di wajah Ina.

Zora Estrid. Memiliki wajah serupa (identik) dengan Ina. Dan ia merupakan saudara kembarnya Ina yang lahir beberapa menit setelah Ina. Zora tidak jauh berbeda dengan saudara kembarnya , hanya saja ia lebih sedikit penurut di banding Ina yang keras kepala. Penyuka berbagai dunia hiburan seperti tontonan serial drama. Kalau Ina penyuka sepak bola, maka Zora lebih menyukai dunia hiburan seperti tontanan drama. Dan Zora lebih ahli dalam membuat cake maupun kue kering dan juga penggila pakaian.

“Seminim-minimnya pengalaman Ina soal asmara, boleh kan kalau dia punya harapan? Bahwa suaminya kelak adalah, kalau bisa, orang yang di cintainya dengan sungguh-sungguh. Bukan “hadiah” yang di sodorkan ayahnya meski dalam bungkus kado paling menyita perhatian. Pasangan itu semestinya hadiah yang berasal dari Tuhan, bukan dari manusia lain.” (hlm. 27)

Inanna Grace dan Zora Estrid, dua gadis bersaudara memiliki wajah yang identik satu sama lain, secara keseluruhan mempunyai kesamaan dimulai dari aksi belanja gila-gilaan, kuliah tidak selesai-selesai, pergi ke Club malam hingga terjadinya baku-hantam antara Sonya (cewek yang bermasalah dengan Zora) dengan Ina (karena membela Zora), hingga yang terakhir membuat Navid, sang papa habis kesabaran hingga level terendah. Melihat tingkah dua anaknya yang tak terkontrol akhirnya sang papa menarik paksa kartu kredit dan menjodohkan mereka berdua.

Menikah Tanpa Cinta? Oh No!

Tentu saja mereka syok dan tidak mempercayai tindakan sang papa yang tega menjodohkan mereka, yang mengira hanya sebagai ancaman untuk anak-anaknya agar bertobat dari tingkah laku mereka yang di luar batas itu. Namun, beberapa hari kemudian dari aksi diam sang papa yang tidak membahas masalah perjodohan, datanglah sepasang suami-istri yang merupakan teman lama sang papa yang membawa masing-masing anak laki-laki mereka yang akan di jodohkan dengan si kembar. Martin dengan Ina dan Winston dengan Zora. Ina yang sudah kecewa makin kecewa dengan pilihan papanya, sedangkan Zora terlihat bersemangat dijodohkan dengan Winston.

Bagi Ina, modal utama dalam pernikahan itu adalah cinta. Karena ia ingin menikah dengan orang mencintai dan di cintai seperti pernikahan papa dan mamanya.

Hingga suatu hari kesialan sepertinya belum mau menjauh dari Ina, hingga ia menabrak Coupe. Dan kena luapan emosi Vicky yang tak lain sahabat sekaligus orang yang di percayai oleh orang yang di tabrak Ina yaitu Alistair Damanik Binsar. Belum sampai di situ di rumah sakitpun Ina mendapat berbagai macam pertanyaan dari orang tua Alistair hingga pertanyaan apakah Ina sudah punya pacar apa belum (apa-apaan itu? Apa hubungan kecelakaan dengan punya pacar? *orang tua aneh*).

Masalah sepertinya belum mau menjauh dari Ina, dari Martin yang semakin gigih mendekatinya atas izin ayahnya, dan permintaan tiba-tiba dari orang tua Alistair yang menginginkan Ina untuk menikah dengan anaknya karena hidup Alistair yang tidak lama lagi, semakin membuat Ina tertekan dan akhirnya memilih untuk menyetujui permintaan orang tua Alistair.

Entah alasan apa yang mendorong Ina, sehingga membuatnya langsung mnyetujui permintaan orang tua Alistair. Entah karena dua bola mata yang berwarna biru es itu sehingga membuat Ina langsung cegukan di depan orangnya, atau hanya karena permintaan orang tua yang menginginkan anaknya bahagia, atau juga karena Ina ingin menghindari perjodohan dengan Martin yang semakin membuatnya tak nyaman dengan semua perlakuan Martin terhadapnya. Hingga tanpa sadar Ina menyetujui untuk menikah dengan Alistair.

Menikah dengan Alistair rupanya tidak membuat Ina menderita karena sikap di pertemuan pertamanya dengan Alistair yang kaku, tapi malah sebaliknya Alistair dapat memberikan sentujan ajaib kepada Ina hingga membuat Ina nyaman dengan perhatian-perhatina kecil yang di berikan Alistair kepadanya.

Dalam suatu hubungan pernikahan tentu saja tidak selalu di penuhi dengan kebahagiaan, tapi ada juga ujian, cobaan dalam mempertahankan hubungan dan keutuhan rumah tangga mereka. Apalagi dengan kemunculan tiba-tiba seorang masa lalu Alistair ke rumahnya tanpa di undang, dan tanpa Ina sadari rupanya berhubungan dengan dirinya sendiri.

Keputusan apa yang akan di pilih Ina untuk pernikahannya yang baru saja ia jalani? Dan bagaimana dengan sosok masa lalu Alistair yang berhubungan dengan dirinya yang tiba-tiba saja tanpa diundang datang ke rumahnya (dan Alistair tidak menceritakan apa-apa sebelumnya tentang masa lalunya itu).
--------------------

Untuk ketiga kalinya saya di buat jatuh cinta lagi dan lagi dengan karyanya kak Indah Hanaco. Ciri khas dari novel-novelnya kak indah yaitu saya selalu di buat senyum-senyum sendiri dengan genre romantisnya, dan membuat saya pengin nikah J (btw.. saya seumuran dengan Ina loh, dan saya belum menikah, huhuhu *Kapan saya nikah ya Tuhan?? Hanya Tuhan yg tahu*).

Untuk covernya sangat mencerminkan jati diri Ina (sepertinya, kalau salah tolong di koreksi). Dari adanya sepasang sepatu dimana sosok Ina yang sangat mencintai apapun yang menyangkut dengan sepatu. Dan adanya pintu yang terbuka, itu menurut saya seperti Ina yang tiba-tiba tanpa adanya rencana langsung mengiyakan ajakan orang tua Alistair untuk memasuki kehidupan anaknya; Alistair (walaupun ada sedikit kegalauan di diri Ina).

Membaca novel ini juga membuat saya maju-mundur-maju-mundur-cantik untuk pengin ngerasain juga yang namanya menikah, pengin cepat-cepat nyusul Ina-nya J. (nggak percaya? Coba deh baca. Kalau nggak kebukti, ntar laporin ke saya yaa. Biar kita diskusi sama-sama siapa yang benar dan yang salah *Eyaaakk*).

Novel ini tidak hanya menyuguhkan cerita cinta antara Alistair dan Ina saja, tapi juga hubungan kekeluargaan antara Navid dan saudara kembarnya yang harmonis walaupun tanpa sosok seorang ibu bisa membuat mereka tetap rukun,membuat saya iri. Hubungan antar kakak-Adik yang luar biasa saling mendukung satu sama lain, dan hubungan persahabatan yang selalu ada di tiap kita butuhkan, tanpa ada pamrih satu sama lain. Pembahasan tentang perjodohan juga banyak di bahas disni. Dan juga tentang Baby Blue.

Untuk tokoh-tokohnya sangat kreatif, semuanya mempunyai peran masing-masing. Sehingga membuat novel ini lebih berwarna dan tidak bosan apalagi dengan ketebalan novelnya. Di tambah lagi dengan tingkah-tingkah Mily dan Uci yang menurut saya sangat hidup. Apalagi di saat Mily menjuluki Alistair dengan julukan Alibaba *aku suka banget disini, terhibur banget*, (penasaran gak? Kenapa Alistair dipanggil Alibaba sama Mily.)

“Kalian harusnya menikah dan mengurus suami, supaya tahu keasyikannya. Aku tidak sempat merasa bosan. Aku malah makin hebat untuk urusan masak. (hlm. 316)
Percaya nggak dengan kata-kata Ina? Hmm (‘-‘ ) *Saya kurang Yes* yukk tanyakan sama orang yang sudah menikah.. biar tahu faktanya seperti apa kalau sudah menikah.

Karakter favorit tentu saja Ina dan Alistair. Si pasangan yang membuat saya selalu senyum nggak jelas kalau udah ingat namanya. Memiliki hubungan romantic, saling mendukung satu sama lain. Ina yang tegas, dan Alistair yang sabar dalam menghadapi Ina. (saya suka dengan nama Alistair, keren-keren gimana gitu. Kalau suatu saat saya punya anak saya pengin kasih nama Alistair juga deh. Heheh.. bolehkan kak?). Apalagi saat adengan Alistair meminta maaf kepada Ina, dengan cara membuat tenda untuk mereka berkemah *cocwiiiiitt*, sampe di buat akunya kebayang ntah kemana-mana dengan casim (calon suami) masa depanku *cuiittt.. cuittt*.



Membaca novel ini kita tidak hanya di suguhi cerita-cerita romantic, tapi juga hal-hal lainnya seperti pesan-pesan yang di sampaikan oleh penulis. Di dalam suatu hubungan pernikahan saling keterbukaan tidak menyimpan kisah masa lalu, karena jika terungkap tanpa kita cerita itu bisa berdampak ke pernikahan kita sendiri. Menjelang istirahat malam sebaiknya luangkan waktu untuk bertanya bagaimana kegiatan yang di jalani di hari itu, agar pasangan kita merasakan perhatian dan kepedulian walaupun kecil. Dan masih banyak pesan lainnya yang di sampaikan oleh penulis untuk orang sudah menikah. 

Apalagi waktu Alistair dan Ina pergi ke Florence. jujur, aku sampe ternganga *lebay ya? tapi nyata* baca novel ini. Nggak nyangka kalau di Florence begitu banyak tempat-tempat yang wajib untuk di kunjungi, (kalau suatu hari aku berlibur ke sana juga.. Hahaha -ngarep-). Dan untuk kakak penulis aku salutt banget. Untuk novel ini penulis tidak hanya sekadar menceritakan kisah percintaan, tapi di selingi nasihat-nasihat bijak untuk pembaca. Dan tentang Florence penulis betul-betul menginformasikan untuk pembaca tentang hal-hal yang bersejarah yang ada di sana.

Dan yang terakhir, saya tidak menyangka lohh, kalau ending ceritanya seperti ini. Jujur nggak nyangka banget. Cukup di buat syok cantik karena endingnya. (kak indah paling bisa deh buat ending cerita). Dan membaca novel ini juga membuat saya bertanya-tanya pada diri saya, apa rencana hidup saya setelah ini?. *Menikah? Tentu saja salah satu rencana saya (terlalu mudah ya). Rencana lainnya masih gelap belum dapat pencerahan* J.

Btw, novel ini sangat cocok untuk jadi panutan atau pedoman untuk memperkuat hubungan orang-orang yang sudah menikah, yang akan menikah, atau yang baru-baru menikah. Kita bisa melihat dari hubungan Alistair dan Ina dalam memperkokoh hubungan mereka dengan saling memberi perhatian-perhatian kecil dan lain sebagainya, atau saling terbuka tanpa adanya rahasia-rahasia antar pansangan.



Kutipan Favorit:

*Cinta? Ah, itu terlalu klise, Nak. Cinta bisa tumbuh pelan-pelan. Coba kamu lihat, ada banyak orang-orang awalnya berteman tapi lama-kelamaan malah saling cinta. Atau, ada juga pasangan yang bermodal cinta menggebu tapi berakhir dengan saling menyakiti”. (hlm. 21)

*”Orang-orang yang sampai hamil karena hubungan yang kebablasan, tidak mencintai dirinya sendiri. Sudah tahu kalau ada resiko, kenapa tidak mencegahnya? Kenapa malah menyusahkan diri dengan masalah baru? Rasanya manusia modern sangat tahu adanya pencegah kehamilan, kan? Perempuan yang membiarkan dirinya hamil itu menurutku bodoh.” (hlm. 144)

*”Menanyakan tentang lelaki lain kepada pasangan itu sama haramnya dengan menanyakan berat badan atau umur pada perempuan”. (hlm. 325)

*Kamu adalah bintang paling terang dalam hidupku. Kukira selama ini aku tahu artinya mencintai, tapi ternyata aku salah. Karena bagiku, di duniaku, cinta itu adalah saat kita bersama. Aku dan kamu." (hlm. 354)


No comments:

Post a Comment